Banjir Puluhan Tahun Tak Teratasi, Jalan DI Panjaitan Indramayu Kembali Lumpuh
INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id – Masalah klasik banjir di Jalan DI Panjaitan Indramayu, Kecamatan Indramayu, kembali menjadi momok bagi warga di awal tahun 2026 ini. Meski telah terjadi selama puluhan tahun, langkah nyata pemerintah daerah dalam memberikan solusi permanen dinilai masih sangat minim dan hanya bersifat sementara.
Berdasarkan pantauan di lapangan, luapan air mulai merendam akses jalan utama tersebut sejak awal Januari 2026. Ketinggian air yang mencapai puncaknya hingga 60 sentimeter membuat aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat lumpuh total.
Bagi warga sekitar, banjir di Jalan DI Panjaitan Indramayu bukanlah hal baru. Ismail (24), salah satu warga setempat, mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap kondisi yang seolah dibiarkan tanpa penanganan serius dari pihak berwenang selama lebih dari dua dekade.
"Ya sejak tahun 2000-an sudah seperti itu, Pak. Sudah banjir di sini sampai sekarang. Jadi memang musiman tiap tahun," ujar Ismail saat ditemui di lokasi banjir, Senin, 26 Januari 2026.
Ia menambahkan bahwa sejak hujan mengguyur di awal Januari, air sudah mulai merangkak naik dan masuk ke area bangunan. "Awal Januari sudah mulai banjir sampai sekarang. Masih terus begitu," keluhnya.
Kritik tajam tertuju pada buruknya sistem drainase kota. Ismail menyoroti banyaknya saluran pembuangan (got) yang kini beralih fungsi menjadi lahan komersial secara permanen, sehingga menutup akses air untuk mengalir dengan lancar.
"Ya itu, kadang-kadang saluran got di sana itu tertutup peluran (semen) permanen untuk orang jualan semua. Jadi saluran airnya tertutup tempat jualan, jadinya kurang lancar," tegas Ismail
Selain penyempitan saluran akibat aktivitas perdagangan, posisi geografis jalan yang rendah serta tikungan saluran air yang tidak proporsional membuat kawasan DI Panjaitan menjadi titik tumpu genangan air.
Hingga saat ini, upaya yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) maupun pihak terkait dinilai warga hanya menyentuh permukaan saja. Pembersihan sampah di saluran air dianggap tidak cukup kuat untuk melawan debit air yang tinggi setiap musim hujan tiba.
"Belum tahu sih, sepertinya belum ada upaya besar. Paling cuma dari pihak PU (Pekerjaan Umum) mengambil sampah-sampah saja," ungkap Ismail. (*)
Editor : Tomi Indra Priyanto