Infrastruktur Buruk Picu Banjir Berkepanjangan di Desa Cibereng Indramayu
INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id – Penderitaan warga Blok Pasar, Desa Cibereng, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, seolah menjadi agenda rutin yang terlupakan. Selama hampir tujuh tahun terakhir, kawasan ini dipaksa menjadi langganan genangan air setiap kali hujan mengguyur wilayah tersebut.
Ketiadaan infrastruktur pembuangan air yang memadai membuat banjir di Desa Cibereng Indramayu menjadi momok menakutkan bagi penduduk setempat. Bukannya surut, kondisi ini justru kian memprihatinkan karena air tidak hanya merendam akses jalan, tetapi juga merangsek masuk ke dalam rumah-rumah warga.
Pemandangan air yang meluap hingga masuk ke area ruang tamu dan dapur kini menjadi "ritual" pahit bagi warga Blok Pasar. Tidak tanggung-tanggung, lebih dari 10 rumah dilaporkan terdampak langsung setiap kali intensitas hujan meningkat.
Om Santa, salah seorang warga terdampak yang tinggal di lokasi tersebut, mengungkapkan rasa frustrasinya atas pembiaran yang terjadi selama bertahun-tahun. Menurutnya, masalah utama sudah sangat jelas: saluran air yang sempit bahkan hampir tidak ada.
"Setiap kali turun hujan selalu banjir. Kondisi itu sekitar 6-7 tahun terus berlangsung," ungkap Om Santa, Rabu, 28 Januari 2026.
Ia juga menambahkan bahwa dampak kerusakan yang ditimbulkan sudah melampaui batas kewajaran bagi pemukiman warga.
"Bisa lebih dari 10 rumah air masuk ke rumah warga," tambahnya.
Situasi banjir di Desa Cibereng Indramayu ini bukan disebabkan oleh faktor alam semata, melainkan kegagalan manajemen infrastruktur yang kronis. Lebar drainase yang ada saat ini dianggap sangat tidak proporsional untuk menampung debit air hujan yang turun
Om Santa menegaskan bahwa keterbatasan saluran pembuangan adalah akar masalah yang selama ini diabaikan oleh pihak berwenang
"Drainasenya gak ada, sempit," tegasnya.
Buruknya tata kelola air ini menyebabkan warga harus berjibaku menyelamatkan perabotan dan membersihkan sisa lumpur berkali-kali dalam setahun. Warga merasa pembangunan di wilayah mereka tertinggal dibandingkan daerah lain di Kabupaten Indramayu yang mulai melakukan normalisasi saluran secara masif. (*)
Editor : Tomi Indra Priyanto