Panen Raya, Produksi Garam di Indramayu Sulit Dijual

Wahyu Topami
Petani garam di Kabupaten Indramayu Jawa barat mengeluhkan sulitnya menjual garam hasil panen akibat melimpahnya stok garam yang ada.

INDRAMAYU, InewsIndramayu.id, - Matahari yang menyengat selama musim kemarau menjadi sahabat para petambak garam di pesisir Kabupaten Indramayu. Di hamparan tambak garam Kecamatan Kandanghaur, kristal-kristal putih bermunculan nyaris setiap hari, menandakan panen yang melimpah.

 

Namun, di balik gunungan garam yang tampak menjanjikan itu, tersimpan keresahan.

 

Khaeri, salah seorang petambak garam di Kecamatan Kandanghaur, hanya bisa memandang tumpukan garam yang terus bertambah di pinggir jalan. Alih-alih mendatangkan keuntungan, hasil panen itu justru belum menemukan pembeli.

 

Hingga awal Agustus 2026, sekitar 20 ton garam miliknya masih menumpuk tanpa kepastian kapan akan terjual.

 

"Kalau panennya alhamdulillah bagus. Cuaca mendukung, produksi meningkat. Tapi sekarang justru susah menjualnya. Garam sudah banyak, pembelinya yang tidak ada dan harga tidak menentu," ujar Khaeri, Jumat (7/8/2026).

 

Bagi petambak garam, musim kemarau memang selalu menjadi waktu yang dinanti. Setiap pagi mereka meratakan air laut di petakan tambak, lalu menunggu panas matahari mengubahnya menjadi butiran garam. Proses yang bergantung sepenuhnya pada alam itu akhirnya membuahkan hasil.

 

Sayangnya, hasil panen yang melimpah tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan petambak.

 

Gudang bantuan tahun 2021 dari KKP cuma bisa menampung maksimal 100 ton, sedangkan satu kelompok garam bisa mencapai 1.000 ton per musim, sehingga di saat panen raya membutuhkan bantuan gudang garam lagi. Sebagian garam dibiarkan menumpuk di sekitar tambak karena kapasitas gudang mulai terbatas.

 

Ia mengaku kondisi seperti ini hampir terjadi setiap musim panen raya. Produksi meningkat, tetapi penyerapan pasar justru melambat.

 

"Kalau terus begini, petambak bingung. Panen tetap jalan, tapi garamnya tidak keluar. Akhirnya hanya menumpuk di pinggir jalan," katanya.

 

Menurut Khaeri, para petambak sebenarnya tidak meminta harga tinggi. Mereka hanya berharap hasil panen bisa terserap sehingga roda ekonomi masyarakat pesisir tetap berputar.

 

Karena itu, ia berharap pemerintah turun tangan melalui PT Garam atau lembaga lain untuk menyerap produksi garam rakyat, terutama saat panen raya.

 

"Kami berharap pemerintah bisa membantu melalui PT Garam atau lembaga lain supaya garam rakyat bisa dibeli. Yang penting hasil panen kami terserap dan petambak tetap bisa bertahan," tuturnya.

 

Harapan itu bukan tanpa alasan. Bagi petambak, garam bukan sekadar komoditas, melainkan sumber penghidupan keluarga, supaya anak-anak petambak garam terus bisa sekolah. Ketika gudang penuh dan penjualan tersendat, modal untuk memulai produksi berikutnya ikut terhambat.

 

Di bawah terik matahari yang terus menyinari petak-petak tambak Kandanghaur, Khaeri masih setia mengumpulkan butiran garam. Ia percaya musim kemarau akan terus memberi panen. Yang kini ia tunggu bukan lagi sinar matahari, melainkan uluran tangan agar garam hasil jerih payahnya benar-benar sampai ke pasar.

 

Harapan para petambak garam, semoga pemerintah pusat mendengarkan keluh kesah mereka.

Editor : Tomi Indra Priyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network