get app
inews
Aa Text
Read Next : Lomba First Aid, Cara Kilang Balongan Latih Kesigapan Pekerja Tolong Korban Kecelakaan

10 Ribu Mangrove Jadi Tameng Abrasi, PHE ONWJ Intervensi Dua Zona Merah di Indramayu

Sabtu, 21 Februari 2026 | 02:02 WIB
header img
Penanaman secara simbolis melibatkan Pemerintah Kabupaten Indramayu. (Foto: Istimewa)

INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id – Ancaman abrasi yang terus menggerus garis pantai di Kabupaten Indramayu mendapat respons konkret dari PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Perusahaan hulu migas tersebut merealisasikan penanaman 10.000 bibit mangrove di lahan seluas satu hektare yang tersebar di dua titik rawan, yakni Desa Cemara Wetan, Kecamatan Cantigi, dan Desa Krangkeng, Kecamatan Krangkeng.

Program ini ditandai dengan penandatanganan berita acara penyelesaian serta penanaman simbolis di pesisir Desa Krangkeng, beberapa waktu lalu. Langkah tersebut menjadi bagian dari integrasi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Pemerintah Kabupaten Indramayu.

Head of Communication, Relations & CID PHE ONWJ, R. Ery Ridwan, menjelaskan bahwa dua lokasi tersebut dipilih berdasarkan kajian risiko lingkungan yang menunjukkan status keduanya sebagai zona merah abrasi.

"Penanaman sepuluh ribu bibit di lahan satu hektare ini adalah komitmen PHE ONWJ dalam menjalankan prinsip environmental, social, and governance (ESG). Kami menyadari operasi hulu migas harus berjalan beriringan dengan pemulihan ekosistem," ujar Ery.

Ia menambahkan, mangrove memiliki fungsi strategis dalam memperkuat ketahanan iklim sekaligus menopang ekonomi pesisir.

"Ketika mangrove di Cantigi dan Krangkeng ini tumbuh rapat, ia berfungsi ganda, sebagai benteng alami penahan laju abrasi yang mengancam daratan, sekaligus sebagai rumah tinggal fauna laut seperti ikan dan kepiting. Artinya, menjaga mangrove adalah menjaga piring nasi nelayan dan kedaulatan pangan kita," papar Ery.

Program rehabilitasi ini juga diarahkan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim dan poin 14 tentang Ekosistem Laut. PHE ONWJ, lanjut Ery, menargetkan investasi sosial yang berdampak nyata dan berkelanjutan.

"Kami ingin memastikan setiap rupiah investasi sosial Pertamina memberikan Social Return on Investment (SROI) yang positif. Kami tidak ingin menanam lalu pergi. Penanaman di dua desa ini adalah modal awal untuk membangun kemandirian masyarakat pesisir," tegas Ery.

Data kerusakan pesisir turut memperkuat urgensi program ini. Kepala Bidang Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Indramayu, Elly Sunarti, mengungkapkan bahwa kenaikan suhu global berdampak langsung pada wilayah pesisir daerah tersebut.

"Kenaikan suhu bumi antara 1 hingga 1,2 derajat Celcius telah memicu kenaikan permukaan air laut setinggi 60 hingga 100 sentimeter. Dampaknya nyata, hampir 6.000 hektare lahan di pesisir kita rusak. Ini pekerjaan rumah besar," ungkap Elly.

Ia mengapresiasi kontribusi PHE ONWJ yang dinilai sejalan dengan visi “Indramayu Hijau” serta target RPJMD penanaman minimal 20 ribu batang mangrove.

Dukungan terhadap rehabilitasi kawasan pesisir juga datang dari Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Indramayu. Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Bapperida, El Gharif H., menyebut langkah ini memperkuat revisi RTRW yang tengah dibahas.

"Pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten sepakat menjadikan mangrove sebagai program prioritas. Dalam revisi RTRW, kita menetapkan batasan tegas untuk green belt atau sabuk hijau. Kami mengapresiasi konsistensi PHE ONWJ menjaga kelestarian alam yang secara langsung mendukung tata ruang yang telah kami rancang," tutur Gharif.

Dari sisi provinsi, Kepala UPTD Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Ketut Donny Djatmika, menekankan pentingnya pengelolaan lanjutan setelah fungsi ekologis kawasan pulih.

"Ke depan, saat tanaman tumbuh, kita akan turun ke aspek lain, yaitu pengelolaan hasil hutan yang memberikan manfaat ekonomi bagi warga. Jangan kapok untuk terus berkolaborasi, karena Dinas Kehutanan akan selalu mengawal," pesan Donny.

Sementara itu, Lurah Desa Krangkeng, Jahari, menyampaikan harapan agar program ini tidak berhenti pada tahap penanaman semata.

"Pohon mangrove ini adalah benteng kami dari abrasi. Kami berharap kerja sama ini tidak putus di sini, tetapi berlanjut dalam bentuk pembinaan jangka panjang agar kami mampu merawat warisan ini dengan baik," harap Jahari.

Dengan penanaman di dua titik kritis ini, rehabilitasi mangrove di pesisir Indramayu diharapkan menjadi fondasi perlindungan jangka panjang bagi wilayah daratan sekaligus sumber penghidupan masyarakat nelayan setempat. (*)

Editor : Tomi Indra Priyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut