Bulan Muharam, Desa Legok di Indramayu Semarakkan Tradisi Bubur Sura
INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id - Perayaan pergantian tahun dalam penanggalan Islam yang bertepatan dengan kalender Jawa selalu diiringi dengan berbagai refleksi spiritual serta pesta adat yang sarat akan makna filosofis mendalam. Bagi masyarakat Jawa, awal bulan Muharam ini memang akrab disebut sebagai bulan Sura atau Suro. Kehadiran bulan yang sakral ini menjadi pemantik bagi masyarakat komunal untuk memprioritaskan kembali nilai kebersamaan di atas kepentingan personal yang menyita waktu sehari-hari.
Melalui media kuliner tradisional yang diolah secara kolektif, ikatan sosial antarwarga kembali diperkuat di tengah derasnya arus modernisasi. Di wilayah pantura Jawa Barat, semarak momen tersebut diwujudkan secara nyata melalui penyelenggaraan Tradisi Bubur Sura Legok yang melibatkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan generasi desa, Sabtu (27/6/2026).
Setiap memasuki Bulan Muharam atau Bulan Sura, suasana berbeda terasa di Desa Legok, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu. Aroma santan dan rempah-rempah mulai tercium dari halaman masjid hingga rumah-rumah warga yang berkumpul untuk memasak Bubur Sura secara bersama-sama. Tradisi tahunan ini bukan sekadar kegiatan memasak biasa. Bagi masyarakat Desa Legok, Bubur Sura menjadi simbol rasa syukur sekaligus media mempererat hubungan antarwarga yang terus dijaga turun-temurun.
Di pelataran masjid dan halaman rumah warga, laki-laki hingga perempuan terlihat sibuk membagi tugas sejak fajar menyingsing. Kaum pria mengaduk bubur di atas tungku besar, sementara ibu-ibu menyiapkan bumbu dan pelengkap hidangan di dalam ruangan.
Kuliner ritual yang hanya dijumpai sekali dalam setahun ini memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan menu sarapan harian pada umumnya. Bubur Sura khas Desa Legok memiliki cita rasa gurih dengan campuran santan dan rempah-rempah pilihan. Penyajiannya dilengkapi berbagai topping seperti telur dadar iris, serundeng, kacang goreng, hingga kuah pedas yang menambah kelezatan.
Namun di balik rasanya, tradisi ini menyimpan nilai sosial yang kuat. Proses memasak bersama selama berjam-jam menjadi ruang pertemuan warga untuk saling berbincang, bercengkerama, hingga mempererat silaturahmi. Pembagian peran yang adil menunjukkan betapa matangnya struktur sosial gotong royong yang ada di perdesaan.
Salah seorang warga Desa Legok Blok Masjid, Khaerul Anam, mengatakan Tradisi Bubur Sura Legok sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat sejak lama. Eksistensinya sengaja dihidupkan kembali setiap kali bulan Suro tiba agar generasi muda tidak kehilangan akar budayanya.
“Ini adalah cara kami orang sini berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas hasil bumi, untuk berbagi dan mempererat silaturahmi,” ujar Khaerul Anam.
Menurutnya, agenda tahunan ini juga menjadi momen penting untuk menjaga kekompakan warga di tengah kesibukan masing-masing. Di hari biasa, mayoritas warga disibukkan dengan aktivitas pertanian dan perdagangan yang menyita waktu.
“Kalau sudah Bubur Sura, semua kumpul. Yang muda, yang tua, semua ikut membantu. Jadi bukan hanya makan buburnya, tapi kebersamaannya yang paling penting,” katanya.
Di tengah arus modernisasi dan budaya serba instan, keberadaan Tradisi Bubur Sura Legok di Desa Legok menjadi pengingat bahwa nilai gotong royong dan kebersamaan masih hidup di masyarakat pedesaan.
Tradisi ini bukan hanya tentang semangkuk bubur, melainkan tentang bagaimana masyarakat menjaga hubungan sosial, merawat budaya leluhur, dan mensyukuri kehidupan melalui cara-cara sederhana yang penuh makna. Melalui pelestarian budaya di bulan Suro ini, ikatan emosional antargenerasi di wilayah Lohbener diharapkan tetap kokoh terikat.
Editor : Tomi Indra Priyanto