INDRAMAYU, InewsIndramayu.id -
Produksi padi Indramayu tetap ditargetkan mencapai sedikitnya 1,6 juta ton di tengah ancaman kekeringan. Pemerintah daerah masih optimistis target gabah kering pungut tersebut dapat dicapai tahun ini.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu, Sugeng Heryanto, mengatakan target tersebut masih mengacu pada capaian produksi tahun sebelumnya. Produksi saat itu berada di kisaran 1,6 hingga 1,7 juta ton gabah kering pungut.
Optimisme itu tetap dipertahankan meski musim kemarau panjang mulai memberi tekanan terhadap lahan pertanian. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam menjaga produksi padi di Kabupaten Indramayu.
“Target produksi kita minimal sama dengan tahun kemarin, sekitar 1,6 sampai 1,7 juta ton gabah kering pungut. Kalau tahun kemarin kita 6,8, sekarang sementara ini baru 6,4. Nanti kita lihat di musim tanam yang kedua,” ujar Sugeng, Kamis (13/8/2026).
Menurut Sugeng, sekitar 113.000 hektare dari total 125.000 hektare lahan sawah di Indramayu telah ditanami. Pemerintah masih berharap luas tanam tersebut dapat bertambah hingga sekitar 115.000 hektare.
Dengan luasan tersebut, pemerintah menghitung masih ada potensi produksi yang cukup besar. Perhitungan itu menggunakan asumsi produktivitas rata-rata 6,5 ton per hektare.
“Sekarang 113.000 hektare. Saya masih optimistis di angka 115.000 hektare. Kalau 115.000 hektare itu, taruhlah rata-rata dikali 6,5 ton, itu sudah 800.000-an ton,” katanya.
Namun, pencapaian target produksi masih menghadapi tantangan kekeringan. DKPP Indramayu mencatat sekitar 12.800 hektare lahan pertanian terdampak dengan tingkat kondisi yang berbeda.
Dampak tersebut terbagi mulai dari ringan, sedang, berat, puso hingga berstatus waspada. Sebagian besar lahan terdampak masih berada dalam kategori waspada.
Sugeng menyebut kondisi tersebut perlu diantisipasi. Sebab, status waspada menjadi sinyal terhadap kondisi tanaman dan lahan pertanian yang terdampak kekurangan air.
“Yang ringan baru kurang lebih 1.000 hektare. Yang sedang juga baru kurang lebih di bawah 1.000 hektare. Sementara yang status waspada ini sudah kurang lebih 8.500 hektare. Ini sudah merupakan sinyal,” ujarnya.
Di sisi lain, karakteristik lahan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Dari sekitar 125.000 hektare luas baku sawah, sekitar 106.000 hektare merupakan lahan beririgasi.
Sementara itu, sekitar 20.000 hektare lainnya merupakan sawah tadah hujan. Lahan tersebut sangat bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan air.
Situasi tersebut membuat musim tanam berikutnya menjadi penting bagi pencapaian target produksi. Pemerintah masih berharap tambahan luas tanam dapat terealisasi sesuai target.
Sugeng juga berharap kondisi pada musim gadu dapat lebih baik. Menurutnya, produksi dari musim tanam berikutnya dapat membantu menjaga capaian produksi daerah.
“Kalau digabung dengan produksi lainnya, mudah-mudahan kita masih pada angka 1,6 juta ton lebih. Kita berdoa, mudah-mudahan di musim gadu ini produksinya akan lebih bagus,” pungkasnya.
Editor : Tomi Indra Priyanto
Artikel Terkait
