get app
inews
Aa Text
Read Next : 3.000 Pekerja di Indramayu Masih Terdaftar BPJS Jakarta, Disnaker Soroti Pelayanan

Tokoh Masyarakat Kroya Soroti Dugaan Hilangnya Syariat dalam Pengajian Mimi Desi

Selasa, 21 Juli 2026 | 11:15 WIB
header img
Tokoh masyarakat menyampaikan tanggapan terkait Pengajian Mimi Desi di Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, Selasa (21/7/2026). (Foto: Wahyu Topami)

INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id Pengajian Mimi Desi di Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, menjadi sorotan tokoh masyarakat setempat. Guruh Rahmatullah menilai terdapat sejumlah praktik yang diduga menghilangkan syariat Islam sehingga dikhawatirkan dapat menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Karena itu, ia bersama warga melaporkan persoalan tersebut kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar dilakukan kajian lebih lanjut, Selasa (21/7/2026).

Guruh mengatakan, kecurigaan itu muncul setelah memperoleh informasi dari anggota keluarganya yang mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan dalam pertemuan dinilai tidak sesuai dengan pemahaman Islam yang selama ini dikenal masyarakat.

"Lama-kelamaan kami melihat ada banyak kejanggalan. Misalnya, mereka tidak menjalankan syariat sebagaimana mestinya. Ada praktik sedekah, tetapi kami tidak tahu sedekah itu diarahkan ke mana," kata Guruh.

Selain itu, Guruh mengaku menerima keterangan dari sejumlah warga yang sempat mengikuti pertemuan. Berdasarkan informasi yang diterimanya, materi yang disampaikan disebut hanya merujuk kepada Al-Qur'an tanpa menggunakan hadis maupun sunah Rasulullah sebagai rujukan.

"Dari beberapa warga dan juga keponakan saya yang sempat mengikuti pertemuan, mereka mengatakan bahwa dalam penyampaiannya hanya merujuk langsung kepada Al-Qur'an tanpa menggunakan sunah maupun hadis Rasulullah," ujarnya.

Menurut Guruh, hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pengajian Mimi Desi perlu dikaji oleh pihak yang berwenang. Ia khawatir masyarakat dapat memperoleh pemahaman yang berbeda terkait ajaran agama apabila persoalan tersebut tidak segera mendapat penjelasan.

"Yang kami khawatirkan adalah masyarakat menjadi salah memahami ajaran agama. Kami takut terjadi kesesatan di tengah masyarakat," tegasnya.

Ia juga mengaku menemukan berbagai kejanggalan lain selama kegiatan itu berlangsung di lingkungan keluarganya. Menurut Guruh, persoalan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan metode pengobatan, tetapi juga menyangkut keyakinan masyarakat.

"Yang paling kami soroti sebenarnya adalah adanya upaya menghilangkan syariat. Banyak sekali kejanggalan yang saya lihat karena rumah saya memang berdekatan dengan rumah bibi saya," katanya.

Guruh berharap MUI bersama Kantor Urusan Agama (KUA) segera melakukan klarifikasi agar masyarakat memperoleh kepastian mengenai dugaan penyimpangan tersebut. Ia menilai penjelasan dari instansi yang berwenang diperlukan untuk menghindari keresahan yang semakin meluas.

"Harapan kami, jangan sampai ada lagi ajaran seperti ini yang meresahkan masyarakat. Soal materi mungkin itu hak masing-masing. Tetapi secara keyakinan, kami sebagai umat Islam merasa terganggu dengan adanya perkumpulan seperti ini," pungkasnya.

Editor : Tomi Indra Priyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut