Melihat Lebih Dekat Aktivitas Tempat Pembuangan Akhir Sampah di Indramayu
INDRAMAYU, InewsIndramayu.id – Tumpukan sampah di TPA Pecuk Indramayu, Kecamatan Sindang menjadi bagian dari keseharian puluhan warga. Di tempat yang bagi sebagian orang identik dengan sampah, mereka justru menemukan cara untuk mendapatkan penghasilan.
Salah satunya Wasinah (39). Perempuan tersebut sudah bertahun-tahun menjalani pekerjaan sebagai pemulung di TPA Pecuk.
Bagi Wasinah, aktivitas mencari barang bekas bukan pekerjaan yang baru dijalani. Ia bahkan sudah melakukannya sejak masih berusia 8 tahun.
Waktu terus berjalan. Kini, di usia 39 tahun, Wasinah masih menjalani pekerjaan yang sama untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Setiap hari, ia datang ke TPA Pecuk sekitar pukul 08.00 WIB. Dari tumpukan sampah, ia mencari berbagai barang yang masih memiliki nilai jual.
Kardus dan botol plastik PET menjadi beberapa barang yang dicari. Barang-barang tersebut dikumpulkan sebelum dijual kembali.
Rutinitas itu berlangsung hingga siang atau sore. Lama waktu bekerja bergantung pada kondisi dan barang yang masih bisa ditemukan.
“Kadang sampai sore. Kalau masih ada yang dicari, bisa sampai mendekati Magrib. Kalau tidak, biasanya pulang sekitar jam empat,” ujarnya, Sabtu (19/9/2026).
Dari pekerjaan tersebut, Wasinah biasanya mendapatkan sekitar Rp40 ribu hingga Rp45 ribu setiap hari. Penghasilan itu kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan lima anaknya.
Di tengah aktivitas tersebut, Wasinah melihat jumlah warga yang mencari penghasilan di TPA Pecuk semakin bertambah.
Menurutnya, kini ada sekitar 70 orang yang mencari penghasilan di lokasi tersebut. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
“Sekarang mungkin sekitar 70 orang. Dulu belum sampai 50 orang,” kata Wasinah.
Pertambahan jumlah pemulung itu membuat TPA Pecuk memiliki cerita lain. Tempat pembuangan sampah tersebut juga menjadi ruang bagi sebagian warga untuk mencari penghasilan.
Setiap hari, para pemulung menyusuri tumpukan sampah. Mereka memilah barang yang masih bisa dijual dan memiliki nilai ekonomi.
Barang yang mungkin sudah tidak digunakan oleh pemiliknya masih menjadi sesuatu yang berharga bagi mereka. Kardus dan botol plastik PET menjadi bagian dari barang yang dicari.
Bagi Wasinah, pekerjaan tersebut menjadi cara untuk mendapatkan penghasilan bagi keluarganya. Aktivitas itu terus dijalani dari pagi hingga waktu pulang.
Namun, penghasilan yang didapat bergantung pada barang yang ditemukan. Karena itu, waktu bekerja juga bisa berubah dari siang hingga sore.
Kisah Wasinah memperlihatkan sisi lain kehidupan di TPA Pecuk. Di balik tumpukan sampah, terdapat warga yang mengandalkan barang-barang bernilai jual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Wasinah berharap pemerintah memperhatikan kondisi para pemulung yang menggantungkan penghasilan dari TPA Pecuk.
Bantuan kebutuhan sehari-hari menjadi salah satu harapan yang disampaikannya. Ia menyebut bantuan berupa sembako atau bentuk lainnya akan sangat membantu.
“Kalau ada bantuan dari pemerintah, sembako atau apa saja, kami tentu sangat terbantu,” katanya.
Editor: Tomi Indra Priyanto