INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id – Banjir besar yang memutus ruas jalan kabupaten penghubung Desa Telagasari dan Desa Tempel, Kecamatan Lelea, memaksa warga memutar otak agar tetap bisa bermobilitas. Pemandangan unik sekaligus memprihatinkan terlihat saat mesin traktor sawah, atau yang akrab disebut warga sebagai "klektor", beralih fungsi menjadi jasa angkut motor dadakan.
Langkah ekstrem ini menjadi pilihan utama para komuter dan pelajar yang terjebak di tengah kepungan air sepanjang 500 meter. Tingginya debit air yang merendam badan jalan membuat kendaraan roda dua tidak mungkin melintas secara manual tanpa risiko kerusakan mesin yang parah.
"Klektor" Jadi Solusi di Tengah Belasan Motor Mogok
Penggunaan traktor sebagai angkutan evakuasi ini bukan tanpa alasan. Hingga saat ini, sudah belasan motor dilaporkan mogok dan mati mesin akibat nekat menerjang genangan air yang bersumber dari luapan sungai-sungai kecil di area pesawahan tersebut.
Kardani (46), warga setempat yang menyaksikan langsung kondisi di lapangan, menyebutkan bahwa jasa traktor ini menjadi satu-satunya solusi logis bagi warga. "Nyewa jasa angkut, harga angkut Rp15.000 per satu motor. Karena memang motor sudah enggak bisa lewat, takutnya mogok," ujar Kardani, Kamis, 29 Januari 2026.
Menanti Janji Pemerintah dan Normalisasi Sungai
Munculnya fenomena jasa angkut traktor ini menjadi tamparan keras bagi infrastruktur jalan kabupaten yang seolah tak berdaya menghadapi luapan air. Selain melumpuhkan jalan, banjir ini juga telah merendam sekitar 20 hektar tanaman padi warga.
Kardani secara terbuka menyampaikan desakan agar pimpinan daerah segera turun ke lapangan untuk melihat penderitaan warga di wilayah Toang Tempel, Desa Pengauban.
"Harapan saya Bapak Bupati segera ke sini, meninjau dampak banjir di Desa Pengauban Toang (jalanan yang kiri-kanannya sawah) Tempel. Segera bupati cepat tanggapi, sama Pak KDM juga," pungkasnya. (*)
Editor : Tomi Indra Priyanto
Artikel Terkait
