Terminal Khusus Kilang Balongan Jadi Simpul Strategis Distribusi Energi Nasional

Dindin Ahmad S
Kapal PIS Cinta melakukan proses pemuatan Avtur hasil pengolahan Kilang Pertamina Balongan di Terminal Khusus Kilang Balongan, Indramayu, Jawa Barat. (Foto: Istimewa)

INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id – Rantai pasok energi nasional tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada sistem distribusi yang terencana dan terintegrasi. Salah satu titik penting dalam sistem tersebut adalah Terminal Khusus (Tersus) atau Jetty Kilang Balongan milik PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) VI Balongan.

Fasilitas ini berfungsi sebagai pelabuhan khusus pemuatan produk hasil kilang, yang mencakup Bahan Bakar Minyak (BBM), Bahan Bakar Khusus (BBK), produk Non BBM, hingga petrokimia. Dari terminal ini, pasokan energi dikirim ke berbagai wilayah Indonesia, terutama Jakarta, Banten, dan sebagian besar Jawa Barat.

Salah satu aktivitas rutin di Tersus Balongan adalah proses pemuatan produk ke kapal tanker. Pada Kamis (29/1), misalnya, dilakukan pemuatan Avtur ke kapal milik Pertamina International Shipping (PIS) Cinta, yang kemudian didistribusikan ke sejumlah daerah sesuai rencana kebutuhan nasional.

Section Head Supply Chain & Distribution KPI RU VI Balongan, Ahmad Reza, menjelaskan bahwa distribusi Avtur dari Balongan menjangkau berbagai wilayah. Selain wilayah Jakarta dan sekitarnya, pasokan juga dikirim ke Pontianak, Banjarmasin, Kotabaru, serta sejumlah daerah di kawasan Indonesia Timur.

“Proses distribusi dimulai dari perencanaan kebutuhan, dilanjutkan dengan pemuatan sebagian produk di Terminal Khusus Balongan. Kemudian setelah seluruh proses selesai, kapal diberangkatkan ke wilayah tujuan. Seluruh tahapan kami pastikan berjalan aman dan sesuai standar operasional,” ujar Ahmad Reza.

Kilang Balongan sendiri dikenal sebagai unit pengolahan minyak mentah dengan tingkat kompleksitas tertinggi di Indonesia. Kapasitas pengolahannya mencapai 150 ribu barel per hari (KBPD), dengan produk utama berupa Gasoline, Gasoil, Avtur, serta produk Non BBM seperti Propylene dan LPG.

Sekitar 82 persen hasil produksi kilang digunakan untuk memenuhi kebutuhan Jakarta dan Jawa Barat, sementara sisanya disalurkan ke wilayah lain di Indonesia serta untuk ekspor Decant Oil.

Untuk menunjang pasokan bahan baku, Kilang Balongan dilengkapi fasilitas Single Point Mooring (SPM) yang berada sekitar 18 kilometer dari garis pantai. Melalui sistem ini, minyak mentah dan sebagian produk diangkut menggunakan kapal tanker, lalu dialirkan ke kilang melalui pipa bawah laut.

Terdapat tiga unit SPM dengan kapasitas berbeda, yang mampu melayani kapal berukuran mulai dari 17.500 DWT hingga 165.000 DWT. Bahkan, SPM terbesar mampu menerima tanker dengan muatan sekitar satu juta barel.

Faktor cuaca dan kondisi laut menjadi aspek penting dalam pengawasan distribusi. Setiap pergerakan kapal dipantau menggunakan sistem pelacakan GPS untuk memastikan ketepatan waktu dan keamanan pengiriman.

“Setiap tahapan distribusi kami lakukan dengan pengawasan dan verifikasi berlapis, agar produk energi yang dikirim dapat sampai ke daerah tujuan dengan aman, tepat waktu, dan berkualitas,” tutup Ahmad Reza.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan, Kilang Balongan merupakan salah satu fasilitas hilir strategis Pertamina. Lokasinya di Kabupaten Indramayu berada dekat dengan berbagai infrastruktur energi lainnya.

Di antaranya adalah lapangan migas Pertamina EP dan Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) yang menjadi sumber pasokan minyak mentah. Selain itu, terdapat pula konsumen hasil pengolahan seperti PT Polytama Propindo serta Integrated Terminal Balongan yang menyalurkan BBM dan LPG ke masyarakat.

“Pertamina sebagai perusahaan energi terintegrasi memiliki fasilitas-fasilitas yang saling terkait yakni sektor hilir sebagai produsen migas dan sektor hilir sebagai pengolahan dan distribusi. Hal ini merupakan upaya optimalisasi infrastruktur Pertamina, sebagai wujud komitmen kami dalam melayani masyarakat Indonesia,” jelas Baron.

Sebagai bagian dari transformasi perusahaan, Pertamina juga berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 dan mendorong pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut dilakukan melalui penerapan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasional perusahaan. (*)

Editor : Tomi Indra Priyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network