INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id – Petani di Kabupaten Indramayu kini tengah menghadapi dilema besar. Di tengah ancaman banjir, serangan hama tikus yang masif mulai merusak lahan persemaian. Namun, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu memberikan peringatan keras: jangan gunakan setrum listrik sebagai jalan pintas.
Larangan ini dikeluarkan menyusul maraknya penggunaan jebakan tikus beraliran listrik yang dinilai sangat berisiko. Bukan hanya ilegal secara teknis pertanian, metode ini telah banyak memakan korban jiwa di berbagai daerah.
Kabid Tanaman Pangan DKPP Indramayu, Puryanto, menegaskan bahwa penggunaan listrik dari jaringan PLN untuk jebakan tikus adalah pelanggaran hukum.
"Kami melarang keras pemakaian jebakan tikus dengan listrik PLN, itu sebenarnya sudah masuk ranah hukum jika memakan korban. Kami minta penyuluh di lapangan untuk terus menyosialisasikan larangan ini kepada para petani," ujar Puryanto, Senin, 2 Februari 2026.
Ketakutan pada Hama Sempat Tunda Masa Tanam
Fenomena unik terjadi di lapangan. Puryanto mengamati bahwa ketakutan petani terhadap keganasan hama tikus jauh lebih besar daripada ketakutan kehilangan sumber air. Hal ini bahkan sempat memicu penundaan masa tanam di beberapa wilayah lumbung padi.
"Kemarin di Cikawung banyak lahan sudah basah tapi petani tidak mau persemaian karena takut hama tikus. Solusinya bukan setrum, tapi kita harus tingkatkan lagi kegotongroyongan lewat aksi gropyokan untuk mengoperasi tikus secara massal," jelasnya.
Gropyokan: Solusi Aman dan "Guyub Rukun"
Dibandingkan menggunakan metode yang membahayakan nyawa, DKPP mendorong masyarakat tani untuk menghidupkan kembali kearifan lokal berupa budaya gropyokan. Metode berburu tikus secara massal ini dinilai jauh lebih efektif secara jangka panjang dan mempererat solidaritas antarpetani.
Puryanto berharap para kelompok tani bisa kembali bersatu dan mengedepankan prinsip keselamatan dalam menjaga aset pertanian mereka.
"Intinya kita harus menumbuhkembangkan kembali budaya gropyokan ini agar petani nyaman melaksanakan pola tanam tanpa harus mengabaikan keselamatan," tutup Puryanto. (*)
Editor : Tomi Indra Priyanto
Artikel Terkait
