INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id — Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di perbatasan Indramayu-Subang tampak berbeda dari biasanya. Di tengah deru mesin kendaraan yang melintasi jalur Pantura, sejumlah warga terlihat sibuk dengan sapu lidi di tangan. Bagi para penyapu koin Jembatan Sewo, aktivitas ini menjadi cara unik untuk membunuh waktu menunggu azan magrib.
Salah satu sosok yang rutin terlihat adalah Ibu Natmi. Warga setempat ini setiap sore datang ke area jembatan yang melegenda tersebut. Ia mengaku sengaja berada di sana untuk ngabuburit atau menunggu waktu berbuka, sembari mengais rezeki dari koin yang dilemparkan oleh para pengendara.
“Iya, ngabuburit di sini. Tawur, cari uang tiap hari,” ujar Natmi saat ditemui di lokasi, Jumat (13/3/2026).
Rezeki dari Lemparan Pengendara Jalur Pantura
Aktivitas sebagai penyapu koin Jembatan Sewo memang penuh ketidakpastian. Menurut Natmi, jumlah uang yang ia kumpulkan tidak selalu melimpah. Meski demikian, hasil keringatnya di bawah terik matahari sore itu dirasa cukup untuk membantu dapur tetap ngebul dan memenuhi kebutuhan sederhana keluarga saat berbuka.
"Buat buka puasa, beli es, beli lauk, dan sebagainya,” katanya.
Natmi menjelaskan bahwa penghasilan yang diperoleh dari menyapu koin sangat bergantung pada kerelaan hati para pengguna jalan. Ada kalanya ia pulang dengan kantong yang lumayan penuh, namun tak jarang pula hasilnya hanya cukup untuk sekadar membeli minuman segar.
“Nggak tentu, kadang Rp50 ribu, kadang Rp30 ribu,” tandasnya.
Tradisi Unik di Jalur Utama Pantura
Fenomena penyapu koin Jembatan Sewo memang sudah lama menjadi pemandangan ikonik sekaligus kontroversial di jalur Pantura. Sebagian pengendara yang melintas kerap melempar koin sebagai bentuk sedekah atau ritual keselamatan saat melewati wilayah tersebut.
Bagi Natmi dan rekan-rekannya, aktivitas ini bukan sekadar mengikuti tradisi turun-temurun. Ini adalah potret perjuangan hidup di pinggir jalan raya. Mengisi waktu menunggu berbuka puasa dengan tetap produktif menjadi pilihan nyata di tengah himpitan ekonomi.
Harapan mereka sederhana, yakni setiap ayunan sapu di aspal panas membawa pulang rezeki yang berkah untuk keluarga di rumah. Kisah Ibu Natmi adalah satu dari sekian banyak potret kearifan lokal yang mewarnai semarak Ramadan di jalur legendaris Pantura Indramayu.
Editor : Tomi Indra Priyanto
Artikel Terkait
