Mereka juga menyoroti penyaluran BBM subsidi yang dinilai belum optimal, terutama bagi nelayan dengan kapal di bawah 50 gross ton (GT).
Sebagai solusi, nelayan mengusulkan penerapan skema subsidi silang. Mereka berharap harga BBM yang diterima bisa berada di antara harga subsidi dan harga industri, yakni di kisaran Rp11 ribu hingga Rp12 ribu per liter.
Dalam perhitungannya, satu kapal berukuran besar bisa membutuhkan hingga 100 ribu liter BBM untuk sekali melaut.
Dengan harga BBM yang saat ini mencapai Rp30 ribu per liter, biaya operasional dapat membengkak hingga miliaran rupiah.
Sementara itu, hasil tangkapan ikan dinilai tidak mampu menutup tingginya biaya tersebut. Kondisi ini membuat banyak nelayan memilih tidak melaut karena dianggap tidak lagi menguntungkan.
Editor : Tomi Indra Priyanto
Artikel Terkait
