Banjir Terparah dalam 10 Tahun, SMAN 2 Indramayu Terapkan PJJ Darurat
INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id – Dunia pendidikan di Kabupaten Indramayu kembali terpukul oleh bencana alam. Banjir di SMAN 2 Indramayu kini mencapai titik nadir setelah debit air yang merendam lingkungan sekolah dilaporkan menjadi yang terparah dalam satu dekade terakhir. Kondisi ini memaksa ratusan siswa meninggalkan ruang kelas dan beralih ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Lokasi sekolah yang berada di area cekungan disinyalir menjadi penyebab utama air sulit surut. Ditambah lagi, pesatnya pembangunan pemukiman di sekitar sekolah membuat aliran air dari berbagai penjuru justru terkonsentrasi dan "menyerang" area institusi pendidikan tersebut.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 2 Indramayu, Sari Ayu Trisna, mengungkapkan bahwa fenomena ini merupakan pengulangan sejarah kelam tahun 2013/2014, namun dengan intensitas yang jauh lebih destruktif.
"Ini fenomena terulang kembali, pernah terjadi di 2013/2014 tapi tidak separah ini. Mungkin ini banjir terparah yang pernah kami rasakan," ujar Sari Ayu Trisna, Rabu, 28 Januari 2026.
Menurut Sari, hujan yang turun terus-menerus memicu kenaikan debit air yang tak terkendali.
"Di sekitar sekolah kita sudah banyak sekali perumahan, sehingga pembuangan air banyak larinya ke sekolah kita," tambahnya.
Meski pada Senin kegiatan belajar mengajar (KBM) sempat berjalan normal, pihak sekolah terpaksa mengambil langkah darurat pada hari Selasa. Keputusan PJJ diambil demi keselamatan siswa dan guru, mengingat akses di dalam sekolah sudah tidak memungkinkan untuk aktivitas fisik.
"Hari Selasa karena debit air terus meningkat, anak-anak kita lakukan pembelajaran jarak jauh. Insyaallah minggu depan masuk lagi, anak-anak sudah pada gatal pengen ke sekolah," jelas Sari.
Pihak sekolah memastikan tetap memantau jalannya KBM daring hingga situasi benar-benar kondusif, yang diperkirakan paling lama hingga hari Jumat.
Kondisi banjir di SMAN 2 Indramayu ini memicu desakan keras dari pihak sekolah kepada pemangku kebijakan. Sari Ayu Trisna menegaskan bahwa bencana ini adalah masalah daerah yang membutuhkan sinergi lintas instansi, bukan sekadar perdebatan kewenangan administratif antara kabupaten dan provinsi.
"Kami harapkan adanya kepedulian dari instansi terkait, tidak hanya dari Provinsi Jawa Barat tetapi juga dari Kabupaten Indramayu. Karena ini kan bencana daerah," tegasnya.
Secara khusus, pihak sekolah juga melayangkan pesan terbuka kepada pimpinan daerah, termasuk Gubernur Jawa Barat.
"Bapak KDM (Gubernur Jawa Barat) punten pak, ini gimana banjir, tolong-tolong, bapak ditunggu ke sini," pungkas Sari. (*)
Editor : Tomi Indra Priyanto