Jatibarang Siaga! Tawuran Remaja Kini Semakin Terorganisir Lewat Media Sosial
INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id – Fenomena tawuran di Jatibarang Indramayu kini memasuki fase yang sangat mengkhawatirkan karena dinilai semakin terorganisir oleh kelompok remaja.
Para pelaku tidak lagi bergerak secara spontan, melainkan diduga kuat kerap memanfaatkan platform media sosial untuk saling menantang dan membuat kesepakatan waktu bentrokan sebelum akhirnya turun ke jalan untuk melakukan aksi kekerasan.
Tokoh pemuda Jatibarang, M. Atta, mengungkapkan bahwa pola aksi kriminal jalanan di wilayahnya telah mengalami pergeseran signifikan. Berdasarkan pantauannya, kelompok-kelompok remaja ini membangun jaringan komunikasi yang tertutup untuk menentukan koordinat lokasi perkelahian massal, sehingga menyulitkan deteksi dini jika tidak diawasi secara digital.
“Sekarang mereka punya circle masing-masing. Saling DM lewat Instagram, janjian ketemu, lalu menentukan titik kumpul untuk tawuran,” ujar Atta, Senin (11/5/2026).
Menurut pengamatannya, terdapat beberapa titik lokasi strategis yang kerap dijadikan arena panas untuk melancarkan aksi tawuran di Jatibarang Indramayu. Kawasan yang diidentifikasi sebagai zona merah tersebut meliputi area lampu merah Jatibarang, Jembatan Pilangsari, Jembatan Widasari, hingga sepanjang jalur utama Pantura yang menjadi urat nadi transportasi nasional.
Intensitas kejadian ini pun meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Atta menyebutkan bahwa masyarakat sering merasa was-was karena bentrokan antarkelompok bisa meletus kapan saja, mulai dari sore hari hingga waktu fajar menyingsing.
“Kemarin-kemarin itu sering banget. Kadang menjelang magrib, tengah malam, sampai pagi juga ada,” ucapnya.
Meskipun merespons positif kehadiran aparat kepolisian saat kerusuhan pecah, Atta menilai aspek preventif atau pencegahan harus lebih dikedepankan. Ia memandang bahwa intervensi sebelum pecahnya tawuran di Jatibarang Indramayu jauh lebih efektif daripada sekadar melakukan penangkapan setelah adanya korban yang berjatuhan.
“Ketika terjadi tawuran aparat memang cepat datang, tapi untuk pencegahan seperti patroli rutin di titik rawan menurut saya belum maksimal,” katanya.
Ia secara tegas mendesak pihak kepolisian untuk melakukan penjagaan statis maupun patroli mobile secara intensif di titik-titik rawan kumpul kelompok remaja. Hal ini penting untuk memutus rantai komunikasi kelompok yang berencana melakukan tawuran sebelum aksi mereka semakin membahayakan publik.
“Harus ada penjagaan atau patroli rutin di titik rawan. Jangan hanya datang setelah kejadian,” tegasnya.
Perlu menjadi perhatian bersama bahwa eksalasi tawuran di Jatibarang Indramayu sebelumnya telah menelan korban jiwa. Seorang warga dari Desa Jatibarang Baru dilaporkan meninggal dunia setelah terlibat dalam bentrokan maut beberapa waktu lalu. Tragedi ini diharapkan menjadi titik balik bagi semua pihak untuk lebih serius menangani kenakalan remaja yang kini sudah mengarah pada tindakan kriminal terorganisir.
Editor : Tomi Indra Priyanto