get app
inews
Aa Text
Read Next : Sejumlah Cabang Olahraga di Indramayu Memilih Tidak Ikut Porprov

Tawuran Berulang di Jatibarang, Tokoh Pemuda Nilai Efek Jera bagi Pelaku Belum Terlihat

Senin, 11 Mei 2026 | 18:19 WIB
header img
Potret lokasi rawan tawuran di Jatibarang Indramayu yang memerlukan pengawasan ketat dari aparat kepolisian setempat, Minggu (10/5/2026). (Foto: Wahyu Topami)

INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id – Persoalan klasik mengenai tawuran di Jatibarang Indramayu kini kembali mencuat dan menjadi sorotan tajam publik. Aksi kekerasan jalanan antarremaja yang terus berulang dari tahun ke tahun di wilayah Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, dinilai oleh banyak pihak menunjukkan indikasi bahwa penegakan hukum dan langkah preventif yang ada belum mampu memberikan efek jera yang nyata bagi para pelakunya.

Tokoh pemuda Jatibarang, M. Atta, mengungkapkan keprihatinannya terhadap siklus kekerasan yang seolah tidak pernah putus ini. Ia menyebut bahwa tawuran di Jatibarang Indramayu bukanlah fenomena baru yang muncul secara tiba-tiba. Berdasarkan catatan sejarah lokal, kawasan ini memang sudah mulai dikenal sebagai titik rawan bentrokan antarkelompok sejak satu dekade yang lalu.

“Dari zaman saya sekolah sekitar 2014–2015 memang sudah dikenal rawan tawuran. Jatibarang ini sudah lama jadi jalur bentrokan,” ujar Atta, Senin (11/5/2026).

Menurut Atta, pola pergerakan para pelaku tawuran di Jatibarang Indramayu saat ini telah berevolusi menjadi lebih berani dan terorganisir. Kemajuan teknologi komunikasi justru dimanfaatkan secara negatif, di mana para remaja tersebut saling menantang dan membuat janji pertemuan untuk bentrok fisik melalui berbagai platform media sosial. Kondisi ini memperparah risiko gangguan keamanan di tengah pemukiman warga dan jalur lintas Pantura.

Ia menilai, jika sanksi yang diberikan kepada para pelaku tidak bersifat mengikat dan tegas, maka rasa berani para remaja tersebut akan terus tumbuh. Ketidaktegasan dalam menangani oknum yang terlibat bentrokan dikhawatirkan akan menjadi pembiaran terselubung yang membuat konflik horizontal ini terus bersemi.

“Kalau pelaku merasa mudah bebas, nanti konflik akan terus berulang,” katanya.

Selain faktor keamanan wilayah, dampak psikologis terhadap warga sipil juga menjadi perhatian serius. Rasa tidak aman kini menyelimuti masyarakat Jatibarang yang ingin melakukan aktivitas ekonomi atau sosial pada jam-jam rawan. Trauma akibat melihat kekerasan secara langsung membuat warga memilih untuk membatasi ruang gerak mereka.

“Masyarakat sampai sekarang masih waswas keluar malam. Saya sendiri kalau beli nasi goreng malam kadang takut kalau tiba-tiba ada tawuran atau kekerasan di jalan,” ucapnya.

Atta mendesak agar jajaran aparat penegak hukum dan pemerintah daerah segera merumuskan formula sanksi yang lebih berat agar fenomena tawuran di Jatibarang Indramayu bisa ditekan secara signifikan. Sanksi tegas ini dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk menciptakan rasa takut berbuat kriminal di benak para remaja.

“Kalau memang sudah terbukti tawuran, ya harus ada tindakan tegas supaya ada efek jera dan mereka kapok,” tegasnya.

Editor : Tomi Indra Priyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut