Unik! Bobotoh di Indramayu Bayar Nazar dengan Tawur Rp500 Ribu Koin Usai Persib Juara
INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id – Gairah sepak bola Tanah Air kembali membara hingga ke pelosok daerah setelah klub kebanggaan Jawa Barat menuntaskan misi besarnya di kompetisi kasta tertinggi. Euforia keberhasilan piala juara Persib di Indramayu disambut dengan suka cita yang luar biasa, bahkan dirayakan dengan aksi bayar nazar yang sangat unik oleh seorang Bobotoh asal Desa Dukuh Tengah, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu.
Begitu wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan penentu, Muhammad Salahudin Al Ayyubi Kasturi tidak butuh waktu lama untuk mewujudkan janji setianya. Pria yang akrab disapa Ayub tersebut secara spontan langsung menggelar tradisi lokal bernama “tawur” sesaat setelah peluit panjang memastikan Persib kembali menjadi kampiun.
Bagi masyarakat pesisir Pantura, tawur sendiri merupakan tradisi warisan leluhur sebagai ungkapan rasa syukur mendalam dengan cara menebarkan uang kepada khalayak umum. Biasanya, ritual kebudayaan ini dilakukan dalam momen hajatan besar, syukuran kelahiran, hingga perayaan momentum bersejarah tertentu. Di wilayah pesisir Indramayu, tradisi ini masih cukup dikenal sebagai simbol berbagi kebahagiaan dan rezeki kepada sesama tetangga.
Begitu laga krusial tersebut rampung, Ayub tanpa buang waktu langsung menguras kantongnya dan menebarkan uang koin pecahan logam dengan nilai total mencapai Rp500 ribu. Puluhan warga yang awalnya berkumpul untuk nonton bareng merayakan kemenangan Maung Bandung seketika riuh. Anak-anak hingga orang dewasa tampak antusias memunguti koin di tengah suasana penuh sorak sorai dan tawa riang.
“Ini bentuk rasa syukur saya karena Persib bisa juara lagi. Alhamdulillah bisa hattrick juara,” ujar Ayub, Sabtu (23/5/2026).
Bagi Ayub, juara dramatis skuad Pangeran Biru pada musim ini terasa berlipat ganda spesialnya. Pasalnya, klub kesayangan mereka berhasil mencatatkan rekor fenomenal dengan raihan gelar ketiga secara beruntun di kancah sepak bola profesional Indonesia, sebuah pencapaian yang kian mengokohkan dominasi mereka.
“Dari kecil saya memang suka Persib. Jadi pas resmi juara lagi, rasanya senang banget. Saya pengen berbagi kebahagiaan juga sama warga,” katanya.
Aksi seru bagi-bagi uang ini nyatanya sama sekali bukan keputusan mendadak atau instan. Ayub mengakui bahwa dirinya memang sudah berniat kuat dan mengucapkan nazar jauh-jauh hari akan melakukan aksi tawur koin jika tim Maung Bandung berhasil mengunci takhta juara. Demi kelancaran nazarnya itu, ia bahkan sudah menyiapkan persediaan uang koin tersebut sejak sebelum pertandingan usai. Ia memang berniat menggelar tawur jika Persib berhasil memastikan gelar juara.
Sepanjang malam perayaan, sorakan lantang kalimat “Persib Juara” terus menggema tanpa henti di langit Desa Mundu. Sejumlah Bobotoh lokal tampak datang bergelombang mengenakan berbagai atribut kebesaran warna biru khas Persib sambil ikut mengawal jalannya pesta rakyat tawur yang dilakukan oleh Ayub.
“Yang penting mah berbagi. Rezeki enggak akan habis kalau dibagi. Mudah-mudahan Persib terus berprestasi dan masyarakat juga ikut senang,” pungkasnya.
Perayaan sederhana bernuansa kultural di Desa Dukuh Tengah itu pun menjadi warna tersendiri dalam potret euforia juara Persib di Indramayu. Fenomena ini membuktikan bahwa sepak bola di tingkat akar rumput bukan hanya tentang hitung-hitungan taktik kemenangan di lapangan hijau, tetapi juga bagaimana sebuah kebahagiaan universal dirayakan dan dituntaskan melalui pemenuhan janji atau nazar secara komunal.
Editor: Tomi Indra Priyanto