Diiming-imingi Uang Rp50 Juta Lalu Dipaksa Menikah, Korban Pengantin Pesanan Pulang dari China
INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id – Kasus perdagangan orang dengan modus penipuan berkedok pernikahan antar negara kembali memakan korban jiwa dan raga dari wilayah Pantura Jawa Barat. Praktik haram pengantin pesanan di Indramayu kembali terkuak setelah Kusnia, seorang wanita malang asal Desa Jambak, Kabupaten Indramayu, akhirnya berhasil kembali ke tanah air dengan selamat setelah lima bulan terjebak dalam penderitaan di negeri China. Perempuan yang diduga kuat menjadi korban sindikat internasional tersebut mengaku mengalami rentetan kekerasan fisik yang keji serta mendapat berbagai perlakuan kasar yang sangat jauh menyimpang dari janji-janji manis yang diterimanya sebelum berangkat ke luar negeri.
Isak tangis haru menyelimuti kedatangan Kusnia saat dirinya tiba di kampung halamannya pada Jumat (29/5/2026). Kepulangan perempuan muda ini disambut dengan pelukan hangat oleh pihak keluarga besar setelah berbulan-bulan lamanya mereka dilanda kecemasan hebat menghadapi situasi Kusnia yang disekap dalam kondisi yang jauh berbeda dari tawaran awal dari pihak agensi ilegal.
Ia mengaku awalnya tergiur tawaran pekerjaan di China dengan iming-iming penghasilan yang menjanjikan serta uang tunai puluhan juta rupiah sebagai uang tinggal untuk keluarga di kampung.
"Diiming-imingi uang Rp50 juta, bulanan lancar, apa aja diturutin, kenyataannya nggak," kata Kusnia.
Namun, skenario manis yang disusun oleh penyalur tersebut berubah total seketika dirinya menginjakkan kaki di China. Pekerjaan formal yang dijanjikan sebelumnya tidak pernah terwujud sama sekali. Kusnia justru dipertemukan secara paksa dengan seorang pria warga negara China dan kemudian langsung diminta secara sepihak untuk menikah di sana.
Kehidupan rumah tangga yang dijalani di bawah tekanan itu pun berjalan layaknya neraka dunia dan tidak berjalan sesuai harapan. Kusnia mengaku kerap menerima perlakuan kasar dan penganiayaan brutal ketika dirinya tidak menuruti kemauan dari sang suami asing tersebut.
"Malah diperlakukan kasar. Setiap kali tidak menuruti kemauan dia saya suka ditendang bagian belakangnya, suka dipukul," ujarnya.
Menurut pengakuan Kusnia, berbagai hak ekonomi dan kesejahteraan yang sebelumnya dijanjikan oleh perantara sebelum keberangkatan juga tidak pernah ia terima sepeser pun selama berada di negara tersebut.
Saat ditanya mengenai hak-hak atau uang bulanan yang dijanjikan sebelum keberangkatan, ia menjawab singkat dengan tatapan kosong.
"Tidak ada," katanya.
Pengalaman pahit nan traumatik yang dialaminya selama berbulan-bulan membuat Kusnia menyimpan harapan besar agar tidak ada lagi perempuan lain di daerahnya yang terjebak menjadi korban dengan modus kejahatan serupa. Ia mengingatkan para gadis agar lebih selektif dalam memilah tawaran kerja ke luar negeri.
"Harapannya tidak ada korban selanjutnya, jangan mudah diiming-imingi uang besar, jangan mudah percaya sama orang yang baru dikenal yang menawarkan pekerjaan," ungkapnya.
Kusnia mengaku pada awalnya memang tidak mengenal langsung secara personal dengan sosok makelar yang menawarkan pekerjaan menggiurkan tersebut. Informasi mengenai peluang kerja fiktif itu diperolehnya secara lisan dari seorang teman dekat.
"Nggak kenal, orang asing. Saya tahunya diinformasikan dari teman," ucapnya menambahkan.
Meski kini telah menapakkan kaki kembali ke Indonesia, Kusnia menegaskan dirinya tidak ingin tinggal diam. Ia berharap kasus mafia pengantin pesanan di Indramayu yang telah merenggut hak-hak hidupnya dapat segera diproses secara hukum oleh aparat kepolisian agar tidak menimbulkan korban lainnya di kemudian hari.
"Pengennya sih lapor, biar nggak ada korban selanjutnya," pungkasnya.
Editor: Tomi Indra Priyanto