Bulan Muharam, Desa Legok di Indramayu Semarakkan Tradisi Bubur Sura
Namun di balik rasanya, tradisi ini menyimpan nilai sosial yang kuat. Proses memasak bersama selama berjam-jam menjadi ruang pertemuan warga untuk saling berbincang, bercengkerama, hingga mempererat silaturahmi. Pembagian peran yang adil menunjukkan betapa matangnya struktur sosial gotong royong yang ada di perdesaan.
Salah seorang warga Desa Legok Blok Masjid, Khaerul Anam, mengatakan Tradisi Bubur Sura Legok sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat sejak lama. Eksistensinya sengaja dihidupkan kembali setiap kali bulan Suro tiba agar generasi muda tidak kehilangan akar budayanya.
“Ini adalah cara kami orang sini berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas hasil bumi, untuk berbagi dan mempererat silaturahmi,” ujar Khaerul Anam.
Menurutnya, agenda tahunan ini juga menjadi momen penting untuk menjaga kekompakan warga di tengah kesibukan masing-masing. Di hari biasa, mayoritas warga disibukkan dengan aktivitas pertanian dan perdagangan yang menyita waktu.
“Kalau sudah Bubur Sura, semua kumpul. Yang muda, yang tua, semua ikut membantu. Jadi bukan hanya makan buburnya, tapi kebersamaannya yang paling penting,” katanya.
Editor : Tomi Indra Priyanto