get app
inews
Aa Text
Read Next : Pembayaran HOK Tebu Masih Ditunggu, DKPP Indramayu Koordinasi dengan Kementan

13 Ribu Hektare Sawah Terancam Kekeringan, Indramayu Andalkan Normalisasi Irigasi

Selasa, 07 Juli 2026 | 08:23 WIB
header img
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu, Sugeng Heryanto saat memberikan penjelasan mengenai air sungai yang menyusut akibat krisis air di Kandanghaur Kabupaten Indramayu, Senin (6/7/2026). (Foto: Wahyu Topami)

INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id — Bentangan hijau persawahan di sepanjang jalur pantura kini tengah berkejaran dengan waktu di tengah pasokan hidrasi yang terus menyusut. Retakan-retakan tanah yang mulai tampak di sela-sela batang padi muda menjadi sinyal alarm bagi ketahanan pangan daerah, memicu kecemasan mendalam di kalangan kelompok tani lokal. Menghadapi situasi darurat ini, koordinasi lintas sektoral dipacu lebih kencang demi mengalirkan kembali sisa-sisa air dari hulu sebelum terlambat.

Upaya penyelamatan logistik pertanian secara masif dan maraton mulai digulirkan instansi terkait guna meminimalisasi kerugian menyusul fenomena krisis air di Kandanghaur yang kini kian meluas dampaknya.

Sekitar 13.000 hektar sawah di wilayah Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, terdampak krisis air di Kandanghaur akibat menurunnya debit saluran irigasi di musim kemarau tahun ini. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu, Sugeng Heryanto, mengatakan pihaknya tengah mengebut normalisasi saluran secara intensif untuk mengatasi persoalan krusial ini.

Langkah pengerukan sedimen lumpur terus dilakukan agar aliran air dari bendung utama bisa menjangkau area sawah terdampak yang posisinya berada di ujung saluran distribusi. Keterbatasan debit musiman membuat optimalisasi infrastruktur menjadi satu-satunya jalan keluar.

"Ada 13.000 hektar yang terdampak dari saluran Kandanghaur," ujar Sugeng, Senin (6/7/2026).

Wilayah terdampak krisis air di Kandanghaur tersebut membentang luas mulai dari Desa Bugis hingga Desa Wirakanan, serta mencakup wilayah pertanian di Desa Soge dan Desa Parean, dengan total panjang saluran irigasi mencapai sekitar 20 kilometer. Berdasarkan pantauan berkala di lapangan, Sugeng menyebut pengerjaan penanganan yang dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) saat ini dinilai masih belum memadai untuk mengejar kecepatan pengeringan lahan sawah warga.

"Kalau saya melihat satu titik penanganan kayaknya agak kurang. Kalau saya ngitungnya minimal tiga, karena itu ada sekitar kurang lebih 20 kilo dari Bugis sampai dengan Wirakanan," katanya.

Menurut Sugeng, dengan bentangan saluran sekian panjang, penambahan alat berat dan titik pengerukan lumpur sangat diperlukan agar percepatan aliran air bisa segera dirasakan para petani yang kini cemas menunggu pasokan air.

Selain fokus membenahi wilayah Kandanghaur, pihak DKPP Indramayu juga terus memantau titik kritis lain yang berada di Sungai Pembuang Sewo. Di lokasi tersebut, saat ini sedang dilakukan pembendungan secara darurat guna mencegah masuknya intrusi air laut dari kawasan Ujung Gebang yang dapat merusak kualitas tanah pertanian.

Air tawar hasil bendungan tersebut nantinya akan diangkat menggunakan fasilitas mesin pompa bantuan dari Kementerian Pertanian untuk dialirkan langsung ke sawah-sawah tadah hujan di sekitarnya. Penggunaan pompa ini diharapkan mampu memitigasi efek buruk krisis air di Kandanghaur dan sekitarnya agar tidak semakin memburuk.

Sugeng menambahkan, penanganan darurat di saluran Kandanghaur sendiri sebenarnya sudah berjalan sejak seminggu terakhir dengan mengerahkan seluruh potensi yang ada.

Langkah taktis ini membawa harapan besar agar musim tanam gadu atau musim tanam kedua pada tahun ini tetap bisa berjalan maksimal dan berproduksi secara baik meski berada di tengah kepungan kemarau.

Editor : Tomi Indra Priyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut