"Saya sempat jatuh, sampai kerja jadi kuli bangunan. Tapi istri di sini tetap bertahan, dia bikin tempe sedikit-sedikit, keliling ke warung sambil mengurus anak," katanya.
Kini, keringatnya telah berubah menjadi keberkahan. Dari kontrakan sempit yang dulu hanya sanggup mengolah satu lonjor tempe, kini ia sudah mampu membangun rumah permanen dan mendaftarkan diri untuk naik haji. Baginya, setiap butir kedelai adalah titipan Tuhan yang harus dijaga.
Meski kini sudah mapan, Rohyanto tidak ingin anak-anaknya merasakan kepahitan yang sama.
"Saya tekankan pada anak-anak, kamu harus kuliah. Jangan sampai seperti Bapak, mau sekolah SMA saja tidak bisa," pungkasnya. (*)
Editor : Tomi Indra Priyanto
Artikel Terkait
