INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id – Gabah petani di Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, dilaporkan menumpuk akibat terhambatnya distribusi. Kondisi ini terjadi karena Bulog tidak masuk ke wilayah tersebut serta buruknya akses jalan penghubung antar desa.
Salah satu petani setempat, Khaeri, mengungkapkan bahwa hasil panennya belum juga terjual meski sudah beberapa hari sejak panen berlangsung.
“Sudah tiga hari padi belum juga laku,” ujar Khaeri, Jumat (27/3/2026).
Ia menjelaskan, kondisi ini tidak hanya dialami dirinya, tetapi juga petani lain di wilayah tersebut. Akibatnya, gabah yang seharusnya segera didistribusikan justru tertahan dan menumpuk.
Menurut Khaeri, kendala utama terletak pada akses jalan yang rusak sehingga menyulitkan kendaraan pengangkut untuk masuk ke area persawahan.
“Sulit menjualnya dan akses jalannya juga sulit,” katanya.
Ia menyebutkan, jalan penghubung antara Desa Sukaslamet, Kecamatan Kroya, dengan Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, dalam kondisi rusak dan belum memadai untuk dilalui kendaraan pengangkut hasil panen.
Akibat keterbatasan akses tersebut, harga gabah di lokasi menjadi lebih rendah dibandingkan wilayah lain.
“Harga di dalam lebih murah karena kondisi jalannya rusak,” ungkapnya.
Selain faktor infrastruktur, Khaeri juga menyoroti tidak adanya penyerapan gabah oleh Bulog di wilayah tersebut. Menurutnya, Bulog tidak lagi masuk karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan.
“Bulog tidak mau masuk karena kondisi jalannya rusak,” jelas Khaeri.
Padahal, kehadiran Bulog dinilai sangat penting untuk menjaga stabilitas harga gabah serta membantu petani menjual hasil panennya.
Khaeri mengaku telah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk dinas terkait, pemerintah kecamatan, hingga kementrian. Namun hingga kini, belum ada solusi yang diberikan.
“Sudah koordinasi dengan dinas pertanian, camat (Kroya), dan Kementrian Pertanian, tetapi belum ada jawaban,” ujarnya.
Saat ini, sebagian gabah miliknya masih tersimpan dan belum terjual. Ia menyebut jumlahnya mencapai sekitar 3,5 ton, sementara gabah milik petani lain juga masih banyak yang tertahan di area persawahan.
“Sekitar 3,5 ton, dan yang lainnya masih banyak di dalam,” katanya.
Para petani berharap pemerintah segera turun tangan untuk memperbaiki akses jalan serta memastikan adanya penyerapan gabah, agar hasil panen tidak terus menumpuk dan merugikan petani.
Editor : Tomi Indra Priyanto
Artikel Terkait
