INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kondisi suhu udara di Indonesia 2026 sepanjang semester pertama memang terasa lebih panas. Kenaikan merkuri ini terlihat jika kita bandingkan dengan kondisi normal wilayah tanah air. Namun, peningkatan suhu lingkungan tersebut dipastikan belum melampaui rekor suhu terpanas yang pernah terjadi pada tahun 2024 silam.
Pakar Perubahan Iklim BMKG, Ari Kurniadi, memberikan penjelasan resmi mengenai situasi cuaca terkini tersebut. Menurutnya, fenomena cuaca panas yang terjadi di Indonesia saat ini memiliki karakteristik yang berbeda. Fenomena ini tidak sama dengan gelombang panas ekstrem (heatwave) yang sekarang sedang melanda sejumlah negara di benua Eropa.
“Untuk Indonesia sendiri, berdasarkan data pengamatan yang dipublikasikan di website resmi BMKG, suhu udara rata-rata nasional tahun 2026 memang menunjukkan kondisi yang lebih hangat dari normalnya,” ujar Ari melalui keterangan resminya, Rabu (8/7/2026).
Ari menjelaskan secara perinci bahwa peningkatan suhu udara di Indonesia 2026 ini terjadi secara konsisten. Sejak bulan Januari hingga Juni 2026, seluruh bulan secara berurutan mencatat anomali suhu yang positif. Bahkan, catatan pada bulan Juni 2026 menorehkan hasil sebagai bulan Juni terpanas. Nilai anomalinya mencapai angka 0,7 derajat Celsius di atas kondisi normal biologis wilayah kita.
“Yang teramati di Indonesia adalah kenaikan suhu rata-rata nasional, bukan gelombang panas ekstrem seperti yang terjadi di Eropa,” katanya.
Editor : Tomi Indra Priyanto
Artikel Terkait
