Gratis Tiap Minggu, Shiksha Rupa Jadi Ruang Tumbuh Anak Desa di Indramayu
INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id – Di tengah minimnya ruang kreatif bagi anak-anak di desa, sebuah inisiatif menarik hadir dari Rumah Teater Sawo Kecik. Program bertajuk Shiksha Rupa kini menjadi ruang belajar seni gratis bagi anak-anak di Kabupaten Indramayu.
Kegiatan ini rutin digelar setiap Minggu pagi dan diikuti anak-anak usia 3 hingga 12 tahun dari wilayah Kecamatan Cikedung, Kecamatan Terisi, dan sekitarnya.
Nama Shiksha Rupa sendiri diambil dari bahasa Sanskerta. “Shiksha” berarti pengajaran atau pelatihan, sementara “Rupa” merujuk pada seni rupa, yakni cabang seni yang menghasilkan karya visual melalui unsur garis, warna, dan bentuk.
Dalam praktiknya, anak-anak tidak hanya diajak menggambar atau membuat karya visual, tetapi juga dilatih untuk berani berekspresi, berimajinasi, serta mengasah kepekaan rasa melalui seni.
Menariknya, seluruh kegiatan Shiksha Rupa Rumah Teater Sawo Kecik ini diberikan secara gratis tanpa dipungut biaya, sehingga terbuka bagi siapa saja.
Founder Rumah Teater Sawo Kecik, Ray Mengku Sutentra, menyebut program ini sebagai bentuk pengabdian melalui kesenian.
“Shiksha Rupa ini kami hadirkan sebagai bagian dari pengabdian kami dalam kerja ibadah kesenian, sekaligus membuka ruang belajar yang bebas dan menyenangkan bagi anak-anak,” ujarnya saat ditemui, Senin (13/4/2026).
Ia menambahkan, tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar mengajarkan teknik seni, tetapi membentuk karakter anak sejak dini.
“Kami berharap dari sini lahir generasi yang kreatif, memiliki daya nalar dan naluri yang baik, serta percaya diri dalam mengekspresikan gagasan sesuai usianya,” tambahnya.
Lebih jauh, Ray berharap kegiatan ini mampu memberikan dampak jangka panjang bagi perkembangan mental anak-anak.
“Harapannya, ke depan mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat, berkarakter, mandiri, dan tidak takut untuk berkarya,” katanya.
Kehadiran Shiksha Rupa Rumah Teater Sawo Kecik menjadi bukti bahwa ruang pendidikan alternatif berbasis seni masih sangat dibutuhkan, terutama di wilayah pedesaan, sebagai fondasi penting dalam membentuk generasi masa depan yang kreatif dan berdaya.
Editor : Tomi Indra Priyanto