Stok LPG 3 Kg di Indramayu Menipis, Warga Desa Soge Keluhkan Gas Melon Sulit Didapat
INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id — Deretan tabung hijau kosong yang berjajar di sudut dapur kini menjadi pemandangan yang mencemaskan bagi para pelaku usaha mikro di kawasan pesisir. Di saat fajar menyingsing, ketika kepulan asap dari tungku seharusnya sudah mulai membubung untuk mengais rezeki, aktivitas produksi justru harus tersendat oleh hilangnya komoditas utama penunjang operasional harian.
Bagi masyarakat kecil, ketiadaan bahan bakar bersubsidi ini bukan sekadar perkara repotnya memasak, melainkan tentang bagaimana kelangsungan periuk nasi keluarga mereka di esok hari. Situasi sulit inilah yang kini membayangi warga seiring kabar bahwa ketersediaan pasokan gas LPG di Indramayu mulai langka di sejumlah agen dan pangkalan resmi dalam beberapa hari terakhir.
Kelangkaan pasokan gas LPG di Indramayu mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Indramayu dalam beberapa hari terakhir. Salah satu daerah yang terdampak paling nyata ialah Desa Soge, Kecamatan Kandanghaur, di mana masyarakat mulai kesulitan mendapatkan gas bersubsidi untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha kecil. Kondisi pelik tersebut dialami secara langsung oleh Warsinih, seorang pedagang makanan di Desa Soge.
Demi mendapatkan tabung gas melon tersebut, ia mengaku harus mencari hingga ke luar wilayah tempat tinggalnya karena stok di pangkalan maupun agen di wilayahnya sering kali kosong melongpong.
Untuk memperoleh satu tabung gas LPG di Indramayu yang bersubsidi ini, Warsinih bahkan harus merelakan waktu berharganya untuk menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor sekitar 20 menit menuju ke desa lain.
“Kalau harga gas di sini masih normal, kisaran Rp21 ribu sampai Rp25 ribu per tabung,” ujar Warsinih, Sabtu (4/7/2026).
Menurut Warsinih, persoalan utama yang dihadapi masyarakat saat ini sebenarnya bukan mengenai kenaikan harga, melainkan sulitnya memperoleh stok gas di pasaran secara konsisten. Padahal, untuk menunjang aktivitas usaha kulinernya setiap hari, ia biasanya membutuhkan pasokan sekitar tiga hingga empat tabung ukuran mikro tersebut setiap pekan agar roda ekonominya tetap berputar.
“Biasanya seminggu saya habis tiga sampai empat tabung gas. Sekarang dapatnya cuma dua tabung, jadi jelas kurang untuk kebutuhan jualan,” katanya.
Akibat pasokan gas LPG di Indramayu yang kian terbatas, Warsinih kini terpaksa meluangkan waktu ekstra dan energi lebih banyak hanya untuk mencari gas ke desa lain agar usahanya tetap bisa berjalan guna melayani para pelanggan setianya.
“Kalau stok susah nyarinya. Sekarang seminggu dapatnya cuma dua tabung. Susah,” ucapnya.
Ia sangat berharap jalur distribusi gas LPG di Indramayu, khususnya di wilayah Kecamatan Kandanghaur dan Desa Soge, bisa segera kembali normal seperti sedia kala. Menurutnya, kelangkaan yang terjadi secara mendadak ini sangat memukul dan berdampak bagi para pedagang kecil yang setiap harinya bergantung penuh pada keberadaan gas bersubsidi pemerintah.
“Harapannya stoknya kembali normal. Jangan sampai kami harus keliling ke luar desa terus hanya untuk cari gas, karena itu juga menghabiskan waktu dan tenaga,” pungkasnya.
Editor : Tomi Indra Priyanto