Musim Kemarau Hambat Tanam Gadu, DKPP Indramayu Genjot Distribusi Air
INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id — Lembaran kalender sektor pertanian di kawasan pesisir utara Jawa Barat kembali dihadapkan pada tantangan pelik tata kelola pengairan makro. Di saat sebagian wilayah tengah bersuka cita merayakan hasil panen raya, sebagian wilayah lain justru harus berkejaran dengan waktu untuk memulai pembenihan sebelum tanah persawahan berubah mengeras akibat terik matahari.
Dinamika perbedaan fase tanam ini memicu fluktuasi target pencapaian luasan lahan yang cukup signifikan di tingkat kabupaten. Upaya percepatan dan pembagian distribusi debit air kini menjadi fokus utama instansi terkait demi menjaga stabilitas stok gabah nasional seiring jalannya agenda realisasi tanam gadu di Indramayu yang belum sepenuhnya merata.
Realisasi capaian tanam gadu di Indramayu atau musim tanam kedua per bulan ini baru mencapai sekitar 70.000 hektar dari total sasaran target 125.000 hektar. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu, Sugeng Heryanto, menyebut sejumlah wilayah strategis saat ini tercatat masih dalam tahap penyelesaian panen raya sehingga belum bisa memulai fase pengolahan tanah kembali.
"Di kita hasil rapat kemarin, kita sudah kurang lebih tanamnya 70.000 hektar dari sasaran 125.000 hektar. Ini berdasarkan LBS, luas baku sawah," kata Sugeng, Senin (6/7/2026).
Sugeng menyebut wilayah timur dan utara seperti Kecamatan Krangkeng, Karangampel, dan Kedokan hingga kini masih dalam proses panen, sehingga lahan produktif di sana belum bisa dialihkan sepenuhnya ke tahap tanam gadu di Indramayu.
Kondisi keterlambatan pembenihan ini diperparah oleh kedatangan musim kemarau yang secara bertahap menurunkan pasokan air baku di sejumlah saluran irigasi sekunder.
Secara data berkas teknis, dari total 125.000 hektar luasan sawah di Indramayu, sebenarnya 106.000 hektar di antaranya sudah didukung oleh fasilitas irigasi teknis yang mumpuni.
Namun berdasarkan acuan Rencana Tata Tanam Global (RTTG), hanya sekitar 90.000 hektar saja yang benar-benar menjadi kewajiban tanam wajib saat musim kering tiba.
"Sebetulnya proyeksi kita hanya kurang lebih 90.000 hektar pada saat musim gadu," ujarnya.
Sebagai contoh konkret di lapangan, Sugeng mencontohkan kondisi Waduk Cipancuh yang memiliki sasaran luas tanam awal sebesar 6.500 hektar.
Namun, kemampuan riil operasional penyuplai air tersebut saat kemarau datang ternyata hanya mampu menjangkau 1.500 hektar akibat tingginya sedimentasi dan keterbatasan volume tampungan air.
Menyikapi hal tersebut, pihak DKPP bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) serta sejumlah pemangku kepentingan terkait terus melakukan koordinasi gilir giring air secara ketat agar target pelaksanaan tanam gadu di Indramayu bisa tercapai semaksimal mungkin guna menghindari risiko gagal panen terstruktur.
Editor : Tomi Indra Priyanto