Ketidakjujuran ini dinilai merugikan identitas organisasi. Salah satu dampaknya adalah perubahan nama turnamen sepak bola tahunan yang seharusnya menjadi panggung organisasi.
"Setiap tahun ada turnamen antar blok. Karena Kuwu bilangnya pakai uang pribadi, namanya jadi 'Kuwu Cup'. Padahal kalau sejak awal terbuka bahwa itu anggaran Karang Taruna, seharusnya namanya 'Karang Taruna Cup'," tambahnya.
Minim Apresiasi untuk Prestasi Pemuda
Selain masalah anggaran rutin sebesar kurang lebih Rp3,4 juta hingga Rp3,8 juta per tahun, para pemuda juga menyoroti minimnya apresiasi desa terhadap prestasi olahraga. SSB (Sekolah Sepak Bola) Cibereng yang membawa nama desa hingga ke luar kota seperti Subang dan Cirebon, disebut hanya mendapatkan bantuan alakadarnya yang lagi-lagi diklaim sebagai bantuan pribadi.
"Kami membawa nama Desa Cibereng, tapi apresiasinya sangat minim. Kami hanya ingin transparansi. Jangan sampai kegiatan jalan tapi informasi anggaran sengaja ditutup-tutupi," tegas Om Tanos.
Editor : Tomi Indra Priyanto
Artikel Terkait
