Menariknya, keahlian teknis yang menjadi nyawa bagi Bahri Cell tidak didapat dari pendidikan formal. Rifki adalah seorang otodidak sejati. Dulu, ia sering membawa ponsel rusak ke teknisi lain. Sambil menunggu, matanya dengan jeli merekam setiap gerakan tangan teknisi saat membongkar mesin dan menyolder komponen. Ilmu yang ia "curi" lewat pengamatan itu kemudian ia asah secara mandiri hingga berani membuka konter sendiri pada 2019.
Melawan Arus Kerja Pabrik
Saat pemuda seusianya di wilayah Terisi dan sekitarnya berbondong-bondong melamar pekerjaan ke pabrik, Rifki justru memilih jalur mandiri. Alasan utamanya cukup tegas: ia ingin berdaulat atas waktu dan usahanya sendiri.
"Saya tidak mau diatur. Memilih buka konter memang berisiko dan hasilnya tidak langsung tetap, tapi kalau kita serius, rezeki itu pasti mengikuti," tegas Rifki dengan penuh keyakinan.
Kini, di gerainya yang terletak di Desa Cibereng, Rifki menerapkan standar transparansi yang tinggi. Untuk menghapus stigma negatif tentang teknisi yang sering dituduh menukar komponen, ia selalu mengajak pelanggan melihat langsung proses pengerjaannya.
"Mesin selalu saya bongkar di depan mata konsumen. Saya jelaskan kerusakannya agar mereka paham. Kejujuran itu modal utama agar Bahri Cell tetap dipercaya masyarakat," tambahnya.
Editor : Tomi Indra Priyanto
Artikel Terkait
