INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dalam mengawal implementasi jaminan mutu pangan nasional demi melindungi para siswa sekolah. Terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis, Wakil Kepala BGN, Letjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan segan-segan menghentikan paksa operasional unit pelayanan maupun mitra penyedia yang dinilai lalai dalam menjaga higienitas dan kualitas makanan bagi penerima manfaat.
Pernyataan keras dan instruksi lurus tersebut disampaikan langsung oleh Lodewyk saat melakukan kunjungan kerja dinamis ke Desa Cemara Kulon, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu. Langkah preventif ini diambil sebagai respons cepat dari pemerintah pusat guna memastikan kedaulatan pangan dan nutrisi anak-anak di tingkat daerah berjalan sesuai standar operational procedure (SOP).
Menurutnya, evaluasi berkala terhadap unit dapur program Makan Bergizi Gratis terus diintensifkan secara masif, terutama menyikapi munculnya laporan insiden kasus keracunan makanan di beberapa wilayah. Oleh karena itu, ia mendesak komitmen penuh dari seluruh jajaran pengelola dapur untuk bekerja profesional dengan meletakkan standar kesehatan anak-anak sebagai prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar.
“Kalau ada mungkin SPPG, dapur-dapur, mitra, kemudian KSPPG-nya yang mungkin kurang benar, tolong dilaporkan kepada kami,” ujar Lodewyk, Jumat (22/5/2026).
Guna memperketat rantai pasok dan operasional di lapangan, Lodewyk memaparkan bahwa BGN telah membentuk struktur kedeputian khusus yang berfokus pada pengawasan. Tim ini bergerak mulai dari tingkat Deputi Penyediaan dan Penyaluran hingga jajaran Inspektorat Utama yang bertugas memitigasi risiko kelalaian penyajian menu pangan harian dalam skema program Makan Bergizi Gratis.
Otoritas pengawas pusat berjanji akan langsung menindaklanjuti setiap aduan tertulis maupun temuan visual yang dilaporkan oleh masyarakat sipil terkait kelayakan gizi dan kebersihan masakan.
“Ada makanan mungkin yang kurang bagus, sampaikan kepada kami. Nanti kami akan tegur KSPPG-nya dan tentunya para mitra. Dia enggak berubah, saya tutup. Ya. Enggak berubah, saya tutup,” tegasnya.
Lebih lanjut, mantan perwira tinggi militer ini mengibaratkan bahwa tata kelola program Makan Bergizi Gratis berskala masif ini masih berada dalam fase transisi dan adaptasi operasional, sehingga masukan konstruktif dari elemen masyarakat serta pers sangat dibutuhkan.
“MBG ini ibarat anak masih umur satu tahun setengah. Jadi kalau dia masih belajar berjalan, kalau ada hal-hal yang mungkin kurang, mari kita arahkan,” katanya.
Di samping pengawasan regulasi, Lodewyk menekankan pentingnya faktor moralitas kerja bagi para juru masak dan pengelola gudang. Karena makanan yang diproduksi massal ini menyasar masa depan generasi muda, keikhlasan dan rasa tanggung jawab sosial harus ditanamkan sejak dini.
“Saya berharap pegawai-pegawai di dapur itu, mitra, KSPPG-nya itu, bekerjalah dengan tulus dan ikhlas. Anggap anak-anak itu adalah anak kita sendiri,” ucapnya.
Dalam sela-sela peninjauan di pesisir Indramayu tersebut, Lodewyk juga melihat langsung potensi komoditas garam lokal, sektor perikanan tangkap, hingga ketersediaan air minum bersih. Sektor-sektor unggulan pesisir Pantura ini dinilai memiliki kualifikasi tinggi untuk diintegrasikan ke dalam rantai pasok mandiri pendukung program Makan Bergizi Gratis agar mampu mendongkrak perekonomian masyarakat lokal.
Editor : Tomi Indra Priyanto
Artikel Terkait
