Ancaman Kekeringan di Indramayu, BBWS Citarum Pantau Kebutuhan Air Petani

Wahyu Topami
DKPP Kabupaten Indramayu melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kekeringan di area pesawahan di wilayah Indramayu. (Foto: Istimewa)

INDRAMAYU, InewsIndramayu.id - Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum menegaskan kekeringan yang melanda sejumlah areal pertanian di Kabupaten Indramayu bukan disebabkan menipisnya cadangan air di Waduk Jatiluhur. BBWS menyebut stok air masih aman hingga Desember 2026. Menurut mereka, persoalan muncul karena aktivitas tanam petani berlangsung hampir bersamaan sehingga kebutuhan air irigasi melonjak dalam waktu yang sama.

Kepala BBWS Citarum, Abdul Ghoni Majdi, mengatakan pihaknya telah melakukan simulasi ketersediaan air di sistem Waduk Jatiluhur yang menjadi sumber utama irigasi untuk wilayah Karawang, Subang, Bekasi hingga Indramayu.

Hasil simulasi tersebut menunjukkan cadangan air masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun.

"Kalau untuk cadangan ketersediaan air kita sudah simulasi bahwa sampai Desember posisinya aman, bahkan ada surplus," kata Abdul Ghoni Majdi, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, penyebab utama kekeringan di sejumlah daerah irigasi justru berasal dari pola tanam yang tidak berjalan sesuai Rencana Tata Tanam Global (RTTG).

Ia menjelaskan, sekitar 15.000 hektare lahan di golongan pertama mengalami keterlambatan tanam. Akibatnya, ketika jadwal tanam berikutnya dimulai, petani di Karawang, Subang, dan Indramayu membutuhkan air secara bersamaan.

Padahal, kapasitas saluran Tarum Timur hanya mampu mengalirkan sekitar 62,5 meter kubik per detik, sedangkan kebutuhan air saat seluruh areal tanam berlangsung serentak mencapai sekitar 93 meter kubik per detik.

"Yang terjadi ternyata aktivitas tanam saat ini serentak. Jadi semua butuh air dari hulu sampai hilir pada waktu yang sama," ujarnya.

 

Abdul Ghoni mengatakan keterlambatan tanam dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya budaya lokal yang membuat sebagian petani menunda masa tanam serta kekhawatiran terhadap serangan hama tikus apabila menanam lebih awal.

Karena jadwal tanam bergeser, distribusi air yang sebelumnya telah disiapkan berdasarkan RTTG tidak terserap secara optimal.

"Petani tidak tanam sesuai RTTG sehingga air yang sudah dialokasikan saat itu tidak termanfaatkan," tandasnya.

Untuk mengurangi dampak kekeringan, BBWS Citarum mengaku telah membuka aliran tambahan dari Bendungan Sadawarna sebagai suplai menuju wilayah hilir. Selain itu, normalisasi sejumlah saluran irigasi juga terus dilakukan bersama pihak terkait.

Di sisi lain, BBWS bersama Kementerian Pertanian, Perum Jasa Tirta II (PJT II), pemerintah daerah, dan instansi terkait kini menyusun strategi penyelamatan tanaman yang sudah terlanjur ditanam (standing crop). Setelah itu, aktivitas tanam berikutnya akan diarahkan kembali mengikuti RTTG agar kebutuhan air tidak menumpuk pada waktu yang sama.

Menurut Abdul Ghoni, langkah tersebut dinilai menjadi solusi paling realistis agar distribusi air irigasi dapat lebih merata hingga ke wilayah hilir, termasuk Kabupaten Indramayu.

 

Editor : Tomi Indra Priyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network