Petambak Garam Indramayu Minta Ada Kepastian soal Harga Eceran

Wahyu Topami
Petambak garam Indramayu meminta pemerintah memberikan perlindungan harga yang lebih jelas. Mereka menyoroti anjloknya harga garam di tingkat petambak.

INDRAMAYU, InewsIndramayu.id – Petambak garam Indramayu meminta pemerintah memberikan perlindungan harga yang lebih jelas. Mereka menyoroti anjloknya harga garam di tingkat petambak.

Permintaan itu disampaikan petambak garam di Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Kamis (10/9/2026).

Petambak garam Eretan Wetan, Samin, mengatakan harga garam saat ini mengalami penurunan cukup jauh. Harga tersebut berbeda berdasarkan kualitas garam yang dihasilkan.

Harga garam kualitas KW 1 saat ini disebut hanya sekitar Rp800 per kilogram. Sementara KW 2 berada di kisaran Rp600 dan KW 3 sekitar Rp500 per kilogram.

Kondisi tersebut membuat petambak berharap ada kebijakan yang dapat menjaga harga garam. Mereka membutuhkan acuan agar harga komoditas tidak jatuh terlalu dalam.

Samin kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan komoditas beras. Menurutnya, petani memiliki acuan harga melalui kebijakan pemerintah.

“Petani itu kan ada harga HET. Nah, garam juga kami berharap ada harga yang stabil seperti petani,” kata Samin.

Menurut Samin, persoalan harga menjadi semakin berat karena biaya produksi dan kebutuhan sarana tambak tetap harus ditanggung petambak.

Karena itu, ia berharap pemerintah pusat ikut memperjuangkan kepastian harga bagi petambak garam. Ia secara khusus meminta perhatian Komisi VI.

“Kami minta kepada pemerintah pusat, khususnya Komisi VI, bantulah keluhan petani-petani garam. Minimal harga garam itu stabil seperti petani,” ujarnya.

Samin mengatakan anjloknya harga juga membuat petambak harus mencari cara lain. Salah satunya dengan menahan hasil produksi agar tidak langsung dijual saat harga rendah.

Koperasi yang dikelolanya menyiapkan gudang untuk menampung garam milik anggota. Saat ini sekitar 20 ton garam telah tersimpan di salah satu bagian gudang.

Langkah penyimpanan itu dilakukan agar garam tidak selalu harus dilepas ketika harga sedang rendah. Samin mengatakan hasil simpanan sebelumnya baru dijual ketika harga lebih baik.

“Garam simpanan tahun kemarin baru keluar bulan April, waktu itu harganya Rp2.000 per kilogram. Sekarang harga KW 1 cuma Rp800, KW 2 Rp600, dan KW 3 Rp500,” katanya.

Namun, kapasitas penyimpanan juga masih menjadi persoalan bagi petambak. Keterbatasan gudang membuat sebagian hasil produksi belum dapat disimpan dengan baik.

Samin menyebut masih ada lebih dari 20 ton garam yang menumpuk di tanggul di lokasi lain. Garam tersebut belum memiliki tempat penyimpanan yang memadai.

“Kami sudah mengusulkan sejak tahun kemarin tentang gudang garam untuk lokasi lain. Di sana beberapa ton, lebih dari 20 ton, menumpuk di tanggul. Kami butuh gudang garam secepatnya,” ungkapnya.

Selain persoalan harga dan gudang, Samin meminta perhatian terhadap sarana produksi. Beberapa kebutuhan yang disebut antara lain geomembran, irigasi dan jalan produksi.

Ia juga mendorong adanya terobosan dalam pemanfaatan garam untuk sektor pertanian. Menurutnya, pemanfaatan tersebut dapat menjadi salah satu pilihan pasar garam.

“Kalau bisa Kementerian Kelautan bekerja sama dengan Kementerian Pertanian, garam bisa dimanfaatkan untuk pertanian, untuk pupuk dan lain-lainnya,” kata Samin.

Bagi petambak garam, persoalan harga menjadi salah satu hal penting dalam menjaga keberlangsungan produksi. Mereka berharap ada perlindungan yang membuat harga di tingkat petambak tidak jatuh terlalu dalam.

Perbandingan dengan beras menjadi gambaran keresahan tersebut. Saat petani memiliki acuan harga, petambak garam juga berharap memperoleh kepastian serupa untuk komoditas yang mereka produksi.

Editor : Tomi Indra Priyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network