Bertemu Komisi II DPRD Indramayu, Ini Alasan KOMPI Tolak PSN Tambak Pantura
INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id – Penolakan terhadap rencana Proyek Strategis Nasional (PSN) revitalisasi tambak Pantura kembali mengemuka. Kali ini, alasan tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan KOMPI dalam forum diskusi bersama Komisi II DPRD Kabupaten Indramayu dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Pertemuan tersebut berlangsung dengan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Tb Haeru Rahayu, pada Senin (13/4/2026), sebagai upaya membuka ruang dialog antara pemerintah dan para petambak.
Ketua Komisi II DPRD Indramayu, Imron Rosadi, mengatakan bahwa pihaknya sengaja mengajak KOMPI untuk menyampaikan langsung aspirasi para petambak yang terdampak rencana proyek tersebut.
“Alhamdulillah kita bisa bertemu dengan dirjen dan beberapa direktur, diskusi terkait PSN revitalisasi tambak Pantura. Komisi II sengaja menjadwalkan kegiatan ini sekaligus mengajak KOMPI sebagai pelaku tambak yang sudah puluhan tahun mengelola lahan,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Dalam forum itu, KOMPI yang diwakili ketua, sekretaris, pendiri, hingga pengurus menyampaikan sejumlah alasan penolakan terhadap PSN tambak Pantura.
Salah satu poin utama yang disoroti adalah persoalan titik lokasi proyek yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi eksisting di lapangan.
“Jika PSN ini tetap dijalankan, KOMPI meminta dengan skema kemitraan atau ganti rugi, atau menggeser titik. Karena ada titik yang sekarang sudah menjadi sawah bahkan pemukiman, sehingga perlu dikaji ulang,” jelas Imron.
Selain itu, KOMPI juga menyoroti pentingnya kejelasan skema kerja sama agar para petambak tidak dirugikan, mengingat mereka telah lama menggantungkan hidup dari lahan tersebut.
Meski demikian, Imron menilai forum diskusi berjalan kondusif dan mulai mengarah pada titik temu.
“Alhamdulillah forum itu cair, ada kemajuan. Hasil diskusi tidak mentok dan mengarah ke sesuatu yang baik, kemungkinan bisa menjadi solusi terbaik untuk semuanya,” katanya.
Ia menegaskan, komunikasi terbuka menjadi kunci agar persoalan tidak berlarut-larut dan memicu konflik di lapangan.
“Kami berharap forum-forum diskusi ini terus dilakukan. Jangan sampai kanal komunikasi tertutup, karena itu akan menghambat penyelesaian. Kita akan terus mencari formula terbaik untuk semua pihak,” tambahnya.
Di sisi lain, Imron juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas, terutama terkait isu kompensasi.
“Ada banyak informasi yang tidak utuh diterima petambak, termasuk soal nominal kerohiman yang sebenarnya belum dirumuskan. Proses ini masih panjang dan perlu kehati-hatian, jadi mohon semua bisa bersabar,” tegasnya.
Melalui pertemuan ini, diharapkan polemik PSN tambak Pantura dapat menemukan jalan tengah yang adil, tanpa mengabaikan kepentingan para petambak lokal yang telah lama menggantungkan hidupnya di kawasan tersebut.
Editor : Tomi Indra Priyanto