Padahal, kehadiran Bulog dinilai sangat penting untuk menjaga stabilitas harga gabah serta membantu petani menjual hasil panennya.
Khaeri mengaku telah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk dinas terkait, pemerintah kecamatan, hingga kementrian. Namun hingga kini, belum ada solusi yang diberikan.
“Sudah koordinasi dengan dinas pertanian, camat (Kroya), dan Kementrian Pertanian, tetapi belum ada jawaban,” ujarnya.
Saat ini, sebagian gabah miliknya masih tersimpan dan belum terjual. Ia menyebut jumlahnya mencapai sekitar 3,5 ton, sementara gabah milik petani lain juga masih banyak yang tertahan di area persawahan.
“Sekitar 3,5 ton, dan yang lainnya masih banyak di dalam,” katanya.
Para petani berharap pemerintah segera turun tangan untuk memperbaiki akses jalan serta memastikan adanya penyerapan gabah, agar hasil panen tidak terus menumpuk dan merugikan petani.
Editor : Tomi Indra Priyanto
Artikel Terkait
