Petani Indramayu Bangkit dari Banjir, Meski Dihantui Kerugian Besar
INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id – Luka akibat banjir yang merendam ribuan hektare sawah di Kabupaten Indramayu menyisakan beban berat bagi para petani. Di tengah sisa-sisa air yang mulai surut, para petani kini harus berjuang melawan kondisi gagal tanam dengan mengeluarkan modal ekstra yang tidak sedikit.
Pemandangan ini terlihat di areal persawahan yang sempat terendam luapan air sungai hingga setinggi tanggul, di Desa Lombang, Kecamatan Juntinyuat.
Salah seorang petani setempat, Rasdini, mengaku baru bisa memulai penanaman kembali setelah padi yang ia tanam sebelumnya rusak total diterjang banjir.
"Baru tanam lagi karena banjirnya gede sampai ke kali. Sebelumnya sudah ada tanaman padi yang lumayan tumbuh, tapi terendam semua," keluh Rasdini, Rabu, 4 Februari 2026.
Demi menyelamatkan musim tanam, ia terpaksa berburu bibit ke desa lain. Nasib serupa juga dialami oleh Tarwidi. Akibat pesemaian miliknya busuk terendam air, ia harus mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah hanya untuk membeli bibit padi pengganti.
Kondisi gagal tanam massal ini memicu tingginya permintaan bibit padi. Para petani terpaksa merogoh kocek lebih dalam karena bibit yang mereka siapkan sendiri telah hancur.
"Belinya di tetangga desa, di Sambimaya. Satu ikat harganya Rp10.000. Kalau dihitung-hitung untuk satu bidang ini habis Rp500.000 cuma buat beli bibit saja," ungkap Tarwidi.
Nilai tersebut belum termasuk upah buruh tanam dan biaya olah lahan kembali. Bagi petani kecil, uang Rp500.000 adalah angka yang sangat besar, terutama setelah modal awal mereka hanyut dibawa banjir.
Selain kerugian materiil, para petani dilingkupi kecemasan akan banjir susulan jika curah hujan kembali meningkat. Harapan mereka sederhana: adanya perbaikan infrastruktur pengairan agar keringat yang mereka kucurkan di sawah tidak sia-sia.
"Harapannya ya banjir di saluran itu diperbaiki, jangan sampai banjir lagi. Jadi wong tani (orang tani) tidak kangelan (kesulitan) terus," pungkas Tarwidi. (*)
Editor : Tomi Indra Priyanto