Stok Melimpah tapi Petani Mengeluh Langka, Ada Apa dengan Distribusi Pupuk di Indramayu?

Wahyu Topami
Sejumlah pekerja sedang membuat pupuk di Gudang Pupuk Indonesia, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, untuk dilakukan distribusi ke beberapa wilayah, Kamis (5/2/2026). (Foto: iNewsIndramayu.id/Wahyu Topami)

INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id – Kondisi pertanian di Kabupaten Indramayu tengah didera anomali distribusi. Di saat sejumlah petani mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi untuk musim tanam awal tahun ini, pihak otoritas penyalur justru memaparkan data ketersediaan barang yang melimpah di gudang-gudang penyangga.

Saling silang informasi ini menciptakan tanda tanya besar mengenai apa yang sebenarnya terjadi di jalur distribusi dari gudang lini III hingga ke tangan petani.

Koordinator Pupuk Indonesia wilayah Indramayu, Muhammad Fitri Yedi mengatakan bahwa secara administratif dan fisik, stok pupuk di lima gudang utama Indramayu dipastikan aman untuk memenuhi kebutuhan puncak pemupukan pada Januari dan Februari.

"Untuk ketersediaan stok di gudang lini tiga, alhamdulillah aman. Khususnya urea NPK di kisaran 2.500 ton. Kalau masa pemakaiannya kayak sekarang, bisa keluar 400 ton tiap harinya," papar Fitri Yedi saat melakukan peninjauan di Gudang Jatibarang, Kamis (5/2/2026).

Di tingkat pengecer, tudingan kelangkaan juga dibantah dengan data Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Kasnadi, pemilik kios pupuk di wilayah Juntinyuat, menyebutkan bahwa persoalan seringkali muncul bukan karena ketiadaan barang, melainkan pada proses penebusan yang belum dilakukan oleh petani yang bersangkutan.

"Untuk keluhan petani itu tadi tidak benar. Petani tersebut terdaftar di kios kami, terdaftar di RDKK, dan petani tersebut sampai sekarang belum melakukan proses penebusan. Padahal stok kami aman," ungkap Kasnadi.

Ia merinci bahwa di kiosnya saja masih tersedia belasan ton Urea dan NPK yang siap disalurkan kepada warga yang memiliki hak tebus sesuai aturan pemerintah.

Senada dengan pihak kios, Manager PT Bumi Wiralodra Indramayu (BWI), Dulmukmin, menegaskan bahwa pihaknya telah memenuhi seluruh permintaan alokasi hingga awal Februari ini. Berdasarkan datanya, akumulasi stok di tingkat pengecer (PPTS) masih sangat mencukupi untuk menuntaskan masa pemupukan.

"Terkait kalau kemudian adanya kelangkaan, saya pikir ini perlu dicek. Karena posisi kami sudah full terkait pemenuhan stok permintaan. Kalau dinyatakan kelangkaan pupuk, saya pikir ini kurang sesuai karena realitanya saat ini untuk wilayah Juntinyuat saja sudah 905 ton (tersalurkan)," tegas Dulmukmin.

Munculnya perbedaan persepsi antara "sulitnya barang" menurut petani dan "banyaknya stok" menurut otoritas mengindikasikan adanya sumbatan informasi atau kendala teknis dalam sistem penebusan pupuk bersubsidi.

Pihak distributor mencatat bahwa saat ini tersedia akumulasi stok sekitar 115 ton Urea dan 116 ton NPK di tingkat pengecer wilayah Juntinyuat. Kini, tantangan bagi pihak terkait adalah menyinkronkan data RDKK dengan kemudahan akses bagi petani di lapangan agar polemik ini tidak terus berlarut di tengah musim tanam.

"Kami tetap akan mengacu posisi alokasi yang ada dan akan didistribusikan ke petani sesuai dengan RDKK yang ada. Sejauh ini aman," tutup Dulmukmin.

Editor : Tomi Indra Priyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network