INDRAMAYU, iNewsIndramayu.id — Lembaran kalender musim tanam kembali membawa tantangan klasik bagi para petani yang menggantungkan hidupnya pada bentangan sawah tadah hujan di pesisir utara. Terik matahari yang kian menyengat memicu kecemasan kolektif akan surutnya pasokan air dari bendungan utama yang menjadi urat nadi ketahanan pangan daerah.
Di tengah ancaman gagal panen yang membayangi para produsen gabah nasional, langkah taktis dari pemangku kebijakan sangat dinantikan untuk memastikan bulir-bulir padi tetap mendapat asupan hidrasi yang cukup. Komitmen penanganan darurat inilah yang kini tengah digulirkan oleh jajaran eksekutif guna menghalau dampak buruk cuaca ekstrem seiring bayang-bayang bencana kekeringan di Indramayu yang mulai mendekat.
Ancaman musim kemarau panjang mulai diantisipasi Pemerintah Kabupaten Indramayu menjelang musim tanam tahun ini. Berbagai langkah mitigasi mulai dilakukan secara masif, mulai dari pembersihan sedimentasi saluran irigasi hingga pengajuan bantuan sarana pompa air untuk wilayah yang diidentifikasi rawan kekeringan di Indramayu. Langkah cepat ini dinilai krusial mengingat wilayah tersebut merupakan salah satu lumbung padi terbesar di tingkat nasional.
Bupati Indramayu, Lucky Hakim, mengatakan pemerintah saat ini tengah menghadapi dampak perubahan cuaca ekstrem yang berpotensi mengganggu stabilitas sektor pertanian di wilayah Pantura. Ia menekankan perlunya kesiapsiagaan dari seluruh instansi terkait.
“Sekarang kita sedang menghadapi musim kering, El Nino atau La Nina, istilahnya macam-macam. Jadi memang harus diantisipasi,” ujar Lucky Hakim, Senin (6/7/2026).
Editor : Tomi Indra Priyanto
Artikel Terkait
