Petani Indramayu Bangkit dari Banjir, Meski Dihantui Kerugian Besar
Kondisi gagal tanam massal ini memicu tingginya permintaan bibit padi. Para petani terpaksa merogoh kocek lebih dalam karena bibit yang mereka siapkan sendiri telah hancur.
"Belinya di tetangga desa, di Sambimaya. Satu ikat harganya Rp10.000. Kalau dihitung-hitung untuk satu bidang ini habis Rp500.000 cuma buat beli bibit saja," ungkap Tarwidi.
Nilai tersebut belum termasuk upah buruh tanam dan biaya olah lahan kembali. Bagi petani kecil, uang Rp500.000 adalah angka yang sangat besar, terutama setelah modal awal mereka hanyut dibawa banjir.
Selain kerugian materiil, para petani dilingkupi kecemasan akan banjir susulan jika curah hujan kembali meningkat. Harapan mereka sederhana: adanya perbaikan infrastruktur pengairan agar keringat yang mereka kucurkan di sawah tidak sia-sia.
"Harapannya ya banjir di saluran itu diperbaiki, jangan sampai banjir lagi. Jadi wong tani (orang tani) tidak kangelan (kesulitan) terus," pungkas Tarwidi. (*)
Editor : Tomi Indra Priyanto