Saat membeli daging sapi, Yuli mendapatkan harga Rp120.000 per kilogram, jauh lebih murah dibandingkan harga di pasar konvensional yang mencapai Rp150.000. Meskipun dalam kondisi beku, hal ini tidak menjadi masalah baginya karena faktor keterjangkauan harga.
"Kalau di pasaran kan Rp150.000. Lebih mahal, Di sini lebih mudah dan sudah beku itunya (daging sapi). Jadi kayaknya daging diimpor," tambahnya.
Keluhan Soal PNS yang Ikut Memborong
Meskipun merasa terbantu dengan kualitas dan harga di Gerakan Pangan Murah Indramayu, Yuli tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya melihat banyaknya aparat pemerintah yang ikut berburu sembako murah. Ia menilai aksi borong oleh oknum PNS tersebut mencederai tujuan utama program yang seharusnya difokuskan bagi warga kurang mampu.
"Biasanya sih untuk rakyat kecil aja ya seharusnya. Tapi pada minta beli (PNS) ya gimana. Sebenarnya untuk yang kurang mampu," ungkap Yuli.
Keresahan ini muncul karena keterlibatan kalangan yang memiliki penghasilan tetap dalam memborong stok pangan murah dapat mengurangi kesempatan rakyat kecil untuk mendapatkan bagian. Hal ini menjadi catatan penting bagi penyelenggara agar distribusi di lapangan bisa lebih selektif.
Editor : Tomi Indra Priyanto
Artikel Terkait
